Press "Enter" to skip to content

Putin Mainkan Isu Agama dalam Invasi Militer Rusia ke Ukraina?

Invasi militer Rusia ke Ukraina makin menarik. Salah satu perwira tinggi komandan pasukan Chenchen dikabarkan tewas di Bandara Antonov, Ukraina.

Perwira itu bernama Magomed Tushaev, komandan Angkatan Laut Chenchen, yang ikut bersama pasukan Chenchen yang diterjunkan membantu invasi militer Ukraina. Salah satu pasukan Rusia yang tertangkap menyebutkan, pemimpinnya tewas. Belum ada konfirmasi yang menyebut berita ini kecuali tentara Rusia yang tertangkap itu.

‘’Kini Garda Nasional Ukraina dan Unit Khusus Alpha masih bertempur dengan pasukan Rusia yang jumlahnya semakin mengecil,’’ tulis sumber di Kementerian Pertahanan Ukraina kepada Interfax-Ukraine.

Pasukan Chenchen diyakini telah berada di hutan-hutan Ukraina, menunggu komando untuk melancarkan operasi militer lebih besar. Salah satu misinya adalah membunuh para pejabat Ukraina yang menjadi target. Foto-foto para pejabat itu ada di kantong baju tentara Chenchen. 

‘’Mungkin kali ini adalah kesempatan terakhir anda melihat saya masih hidup,’’ kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan pejabat lainnya. ‘’Banyak yang tewas saat saya memasuki Chernihiv, Hostomel dan Melitopol dekat Kyiv. ‘’Pertempuran hebat terjadi. Saya harus menjadwalkan lagi pembicaraan dengan PM Italia Mario Draghi,’’ tutur Volodymyr Zelensky.

Kenapa Rusia harus minta bantuan Pasukan Chenchen? Bukankah Rusia memiliki kekuatan militer lebih tangguh untuk membumi hanguskan Ukrania? 

Pasukan elite berasal dari Republik Chechnya itu, dikenal sebagai pasukan elite yang pernah dilibatkan dalam perang Syria dan Georgia bersama pasukan Rusia. Untuk menyelesaikan kasus Ukraina ini, tercatat 100 ribu personil telah diterjunkan sejak beberapa hari sebelum Presiden Vladimir Putin menyatakan invasi militernya.

‘’Presiden Putin menentukan keputusan jitu dan kami akan melaksanakan perintahnya,’’ kata Ramzan Kadyrov pemimpin Chechnya. Sampai hari ini, ‘’Kami tidak memiliki tentara yang cidera atau mati,’’ sambungnya. 

Beberapa rekaman video yang disiarkan stasiun televisi RT (Rusia Teve) menunjukkan Rusia menggempur sejumlah kota di Ukraina. Satu di antaranya menunjukkan mereka berkumpul di Lapangan Grozny, Ibukota Chechnya menunggu diberangkatkan ke Ukraina.

Ada kekhawatiran invasi militer Ukraina ini akan menimbulkan konflik agama, mengingat tentara Chenchen adalah pasukan elite mirip Komando Jihad. Mereka yang beragama Islam itu digunakan Vladimir Putin, untuk memainkan isu agama guna menumpas republik Ukraina yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan didukung Barat? (DP).

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Mission News Theme by Compete Themes.