Press "Enter" to skip to content

Koperasi Penderes Bikin Gula Semut Banjarnegara Mendunia

INDONESIANLANTERN, BANJARNEGARA – Seperti umumnya keluarga lain, setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri (lebaran), kebutuhan Kadimin warga Desa Gumelem Wetan Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah, pasti membengkak. Ini jelas berat, terutama bagi warga desa sepertinya dengan penghasilan tak seberapa. Namun beberapa tahun terakhir ini, Kadimin tak lagi dipusingkan dengan kebutuhan lebaran ini. Ia yang sudah sekitar 30 tahun menderes tenang karena punya tabungan di koperasi.

Tanpa terasa, dalam setahun, saldo di tabungannya sudah menumpuk, sekitar Rp 6 juta. Ini cukup untuk sekadar menutup kebutuhan hari raya keluarga, bahkan lebih. Kabar baiknya, tidak harus menjelang lebaran, tabungan itu bisa ia cairkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Kadimin tak lagi harus berhutang untuk menutup kebutuhan.

Pekerja perempuan Koperasi Nira Kamukten menyortir kotoran pada gula semut secara manual

“Keuntungannya punya tabungan, bisa digunakan setahun sekali,”katanya. Bagi Kadimin, menabung tak lagi berat karena telah membudaya. Apalagi tabungan itu langsung dipotong dari penghasilannya. Sehingga tanpa terasa. Setiap ia menyetor gula ke koperasi, penghasilannya langsung dipotong untuk tabungan sebesar Rp 2 ribu untuk tiap kilogramnya.

Memiliki tabungan hanya sekelumit manfaat dari berkoperasi. Banyak keuntungan yang dirasakan Kadimin dengan menjadi anggota koperasi. Harga gula produksinya yang dibeli koperasi menjadi relatif stabil. Berbeda dengan dulu, saat ia masih menjual gula ke tengkulak. Harga jual gula naik turun dan tidak stabil. Ia pun hanya pasrah mengikuti harga yang ditentukan tengkulak. Daripada gulanya tak terbeli. “Harga gula kalau dulu naik turun. Kalau sekarang stabil,”katanya

Hapus Stigma Koperasi

Koperasi Nira Kamukten adalah buah perjuangan panjang ratusan petani penderes di Desa Gumelem dan sekitarnya. Dari sebuah kelompok kecil, sekitar tahun 2012, Nira Kemukten menjelma menjadi koperasi besar yang kini beranggotakan sekitar 500 orang. Tentunya tidak mudah merekrut petani sebanyak itu untuk bergabung.

Ketua Koperasi Nira Kamukten Susanto mengatakan, citra koperasi di masyarakat mulanya sangat buruk di desanya. Maklum, sebagian masyarakat desa pernah tertipu hingga puluhan juta akibat kejahatan berkedok koperasi. Alih-alih mendapat bagi untung koperasi, pengelola justru membawa kabur uang masyarakat tanpa lagi diketahui jejaknya. Karena itu, pihaknya lebih berhati-hati dan berjuang lebih ekstra untuk meyakinkan warga.

“Citra koperasi di masyarakat sini tadinya buruk. Karena warga pernah ditipu, uangnya dibawa kabur,” katanya. Tantangan lainnya, para penderes umumnya sudah terikat dengan tengkulak. Padahal belum tentu pola hubungan bisnis itu saling menguntungkan. Bahkan cenderung merugikan penderes.

Pekerja memasukkan gula ke mesin magnet untuk membersihkan kotoran logam

Harga gula pun sering tidak stabil. Sementara penderes sebagai produsen tak punya posisi tawar untuk ikut menentukan harga. Alhasil, berapapun harga yang diberikan tengkulak, penderes hanya menurut. Jeratan hutang kepada tengkulak juga membuat penderes semakin terikat atau sulit menjual produknya ke pihak lain. Namun perlahan, pihaknya bisa meyakinkan penderes untuk bergabung. Koperasi menawarkan solusi atas permasalahan yang dihadapi penderes selama ini. Dalam koperasi, mereka bukan hanya diposisikan sebagai objek namunjuga subjek yang ikut menentukan keberhasilan lembaga. Mereka juga yang pada akhirnya menikmati keuntungan dari usaha itu.

Alhasil, ratusan penderes lambat laun tertarik bergabung ke koperasi. Usaha berbasis gotong royong ini bukan tanpa risiko. Pengurus koperasi bahkan harus berhadapan dengan tengkulak yang merasa terganggu dengan kehadiran koperasi. “Saya pernah didatangi salah satu tengkulak (dimarahi),”katanya.

Mengubah Budaya

Wajar penderes tertarik, koperasi menjanjikan sejumlah keuntungan bagi penderes. Dengan syarat, penderes harus mau mengubah budaya mengolah nira selama ini. Karena orientasi bisnis koperasi untuk ekspor, penderes harus mampu menciptakan produk gula semut dengan standar ekspor. Higienitas jadi kunci utama produk penderes diterima pasar mancanegara.

Sementara selama ini, cara penderes memproduksi gula masih tradisional dengan higienitas kurang. Setelah diedukasi, penderes nyatanya mau mengganti lantai dapur yang masih berupa tanah dengan lantai permanen. Mereka juga mau membangun cerobong tungku yang mengarah ke luar bangunan rumah. Dengan begitu, asap sisa pembakaran tidak terperangkap di dalam dapur sehingga tak mengotori ruangan. Ini sekaligus untuk meminimalisasi adanya kotoran-kotoran kecil yang bisa menumpahi gula saat proses memasak.

”Karena asap dari pembakaran di dapur itu biasanya ada kotorannya, itu bisa jatuh ke gula saat dimasak,” katanya.

Produksi gula kelapa selama ini telah membuka lapangan kerja lebih luas di desa. Sebab usaha itu bukan hanya dilakukan penderes sebagai kepala keluarga, namun juga melibatkan istri atau ibu rumah tangga di rumah. Kepala keluarga bertugas menyadap nira dari pucuk pohon kelapa.

Perjuangan penderes memanjat pucuk pohon kelapa untuk mendapatkan nira

Sesampai di rumah, pekerjaan diteruskan oleh istri atau perempuan di rumah, mulai memasak nira, hingga proses akhir mengayak nira yang telah berubah menjadi butiran-butiran halus (gula semut). Gula itu siap disetorkan ke koperasi untuk diproses lebih lanjut.

Di koperasi Nira Kamukten, Desa Gumelem Kulon, gula semut dari penderes menumpuk di gudang. Menariknya, setiap bungkus plastik gula terpasang barcode untuk memermudah quality control. Barcode itu menunjukkan identitas setiap penderes yang menyetorkan produk gulanya ke koperasi. “Kalau ada yang produknya tidak sesuai, kita bisa langsung ketahui siapa pemiliknya. Sehingga mudah mengontrolnya,” katanya.

Koperasi memekerjakan sejumlah karyawan khusus untuk memproses gula dari penderes hingga siap ekspor. Meski pengrajin sudah berusaha menjaga kebersihan selama proses memasak, nyatanya masih ditemukan banyak kotoran lembut yang tercampur ke gula.

Ini tugas pekerja yang akan menyortir kotoran pada gula sampai benar-benar bersih. Usai dibersihkan secara manual dengan ketelatenan pekerja, produk itu masih dibersihkan lagi menggunakan mesin magnet. Mesin itu akan bekerja memisahkan kotoran mengandung logam berukuran lembut dengan butiran gula sehingga benar-benar steril.

“Biasanya kotoran itu dari serpihan wajan penggorengan saat menyangrai gula. Sehingga harus dibersihkan dengan mesin magnet,” katanya.

Untung Berlipat Berkoperasi

Selain tabungan, penderes ternyata juga menerima banyak manfaat lain dari koperasi. Penderes diikutkan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Dengan begitu, penderes yang tidak lagi bisa bekerja, baik karena sakit atau kecelakaan kerja akan menerima santunan karena jaminan asuransi.

Sampai saat ini sudah ada 171 penderes anggota koperasi yang terdaftar program BPJS Ketenagakerjaan. Keikutsertaan penderes dalam program ini penting mengingat pekerjaan menderes penuh risiko. Setiap hari, penderes memanjat puluhan pohon kelapa yang menjulang tanpa alat pengaman. Risiko jatuh selalu menghantui penderes, terlebih saat pohon licin karena hujan.

Tidak jarang penderes terjatuh hingga mengalami cacat permanen atau lumpuh, bahkan meninggal. Mereka yang cacat usai terjatuh biasanya tidak lagi bisa bekerja hingga hilang matapencaharian. Selain BPJS Ketenagakerjaan, nasib penderes juga lebih terjamin dengan mengikuti asuransi komunitas. Mereka akan menerima santunan ketika sakit atau tidak bisa bekerja.

Pekerja mengecek produk gula setoran penderes dengan teknologi barcode

Penderes juga mendapat Jaminan Hari Tua (JHT) yang dipotong dari penghasilannya. JHT bisa diambil penderes ketika mereka pensiun tidak lagi bekerja atau keluar dari keanggotaan koperasi.

“Setiap tahun kita rekap,”katanya.

Mereka masih akan mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagi tiap tahun dalam Rapat Tahunan Anggota (RTA). Dari bisnis ekspor itu, koperasi yang semula tak memiliki aset, kini mampu membangun pabrik gula di atas lahan yang dibeli dari warga. Pihaknya berencana melebarkan bisnis koperasi bukan hanya ekspor gula, namun juga membangun swalayan yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok warga.

Antusiasme penderes untuk menabung juga terus meningkat. Terbukti, di tahun 2020 lalu, koperasi mencairkan tabungan penderes sebesar Rp 712 juta. Tahun berikutnya, jumlah saldo tabungan penderes diperkirakan akan naik seiring meningkatnya kepercayaan mereka terhadap koperasi. Pendirian toko itu cukup menjanjikan. Koperasi sudah punya modal 500 anggota yang bisa ditarik menjadi pelanggan. Belum lagi masyarakat umum dari Desa Gumelem dan sekitarnya. Usaha ini sekaligus untuk mengurai dominansi toko modern yang sudah ada.

Masa depan penderes kini lebih cerah. Terlebih permintaan ekspor terhadap gula semut cukup tinggi. Gula menjadi kebutuhan warga dunia. Sementara tidak semua negara pohon kelapa bisa tumbuh. Permintaan ekspor gula semut untuk Koperasi Nira Kamukten datang dari berbagai negara, khususnya Eropa, Amerika dan Timur Tengah.

Di masa pandemi, saat ekonomi dunia terpuruk, pada Oktober 2021 lalu, Koperasi Nira Kamukten masih bisa mengekspor 40 ton gula semut ke Jerman dan Amerika. Di Bulan November 2021 berikutnya, pihaknya mengekspor 35 ton gula semut di negara maju. “Kalau sebelum pandemi, permintaan 60 sampai 80 ton,” katanya (Khoirul Muzakki)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *