Press "Enter" to skip to content

Hari Wanita Internasional: Dua Ribu Kasus Pelecehan Terjadi Sejak 2020

Kasus perundungan dan pelecehan terhadap wanita meningkat hingga 2.400 kasus dalam dua tahun terakhir ini. ‘’Tiga atau empat warga Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik, AAPI, mengalami hal itu di tempat umum atau dilakukan oleh pelaku tak dikenal sejak dua tahun masa pandemi,’’ bunyi laporan yang dihimpun AAPI.

Laporan itu diterbitkan untuk memperingati Tahun Perempuan 2022 yang jatuh pada hari Selasa 8 Maret 2022. Untuk tahun ini, dipilih tema yang cukup menggugah: ‘’An Equal World is an Enable World’’. 

Berdasarkan laporan PBB tahun 2015, rata-rata wanita di dunia mendapatkan gaji 24% lebih sedikit dibandingkan karyawan pria. Studi lain mengungkapkan gaji kaum hawa lebih sedikit $ 0.68 atau sekitar Rp 9.500 daripada gaji kaum lelaki.

Belum lagi kasus pelecehan seksual atau perundungan dan aksi kriminal lain, seperti diskriminasi, aksi kekerasan, dan perundungan yang dialami kaum hawa AAPI. ‘’Kasusnya masih terjadi setiap hari di tempat umum, sekolah dan lingkungan bisnis, bahkan di lingkungan tempat tinggal,’’ tulis laporan AAPI.

38 persen kaum wanita AAPI mengakui mengalami pelecehan seksual selama 2021 lalu. Di antara 52% asal Hawaii dan Kepulauan Pasifik serta 40% wanita dari Asia Selatan. Bahkan 12% responden mengalami kekerasan fisik, termasuk 18% di antaranya asal Asia Selatan dan 15% berdarah Hawaii dan Kepulauan Pasifik.

Sementara itu, angka kriminalitas Anti-Asia di AS pada wanita semakin tinggi sejak masa pandemi. Data dari The Center for the Study of Hate and Extremism at California State University, San Bernardino menunjukkan kasusnya meningkat, ‘’Hingga 339% dari serangkaian peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu 2020 hingga 2021,’’ bunyi laporan NBC News.

Pada Mei 2021, Presiden Joe Biden menanda-tangani klausul hukum tentang kriminalitas yang berhubungan dengan Covid-19. Biden juga membentuk White House Initiative on Asian Americans, Native Hawaiians and Pacific Islander, NAPAWF. Badan ini membantu kaum wanita untuk mengkoordinasi layanan Gedung Putih atas kasus-kasus anti-Asia, dan meningkatkan ekonomi serta pendidikan. 

‘’Kami sebut perubahan sistematis untuk menghentikan kasus-kasus kebencian dan diskriminasi berdasar rasisme dan xenophobia,’’ tulis penulis NAPAWF.

International Women’s Day lahir tahun 1907, untuk memperingati 50 tahun penindasan brutal terhadap kaum pekerja wanita garment dan tekstil di New York. Namun, sejumlah riset mengungkapkan International Women’s Day tercipta tahun 1950-an, sebagai bagian dari era Perang Dingin untuk memisahkan peringatan hari itu dari akar sosialisme.

Bersamaan dengan meletusnya Perang Dunia Pertama 1914, kelompok-kelompok sosial berupaya menghentikan demonstrasi dan protes yang ingin merayakan Hari Wanita Internasional. (DP)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *