Press "Enter" to skip to content

Gamelan Semara Santi Getarkan Panggung Swarthmore College, Pennsylvania

Pagelaran musik Bali itu bagai magnet yang menyedot perhatian penonton dari berbagai etnis dan warna kulit. Hampir seratus penonton tak beranjak dari tempat duduknya tatkala kelompok musik Gamelan Semara Santi menggelar lagu demi lagu eksotisnya, Minggu 3 April 2022.

Saat Tari Truno oleh 5 penari Indonesia masuk ke podium, penonton mulai sadar bahwa pertunjukan seni dari Indonesia itu memukau. Tari asal Probolinggo, Jawa Timur berisi protes kolonialisme Belanda, ditampilkan dengan hentakan kaki ke lantai panggung membuat penonton terdiam.

”Tari Truno adalah hasil daur ulang dari tari aslinya asal Probolinggo, agar lebih energik dan modern dari aslinya,” tutur Lidya Darmawan, leader Indonesian Culture Club of Delaware, ICC kepada indonesianlantern.com. 

Lidya Darmawan, direktur artistik ICC.

Sudah sejak lama ICC bergabung bersama  kelompok Gamelan Semara Santi. Mereka sering tampil di YMCA, Chinese Festival, berbagai acara di Maryland, maupun acara-acara Street Festival. ‘’Kami bahkan tampil di sejumlah acara pernikahan, dan mengisi kegiatan di museum-museum,’’ kata Lidya yang bekerja sebagai Paraprofessional untuk anak-anak berkebutuhan di salah satu School District di Delaware. ”ICC selalu menyambut hangat setiap orang yang ingin belajar menari dengan gratis,” tambah Lidya Darmawan. 

Sebagian penari Truno Dance dari ICC Delaware. (koleksi KJRI New York)

Selanjutnya penampilan Gamelan Semara Santi. 19 penabuh gamelan berseragam merah yang masuk ke podium, membuat penonton makin terkesima. ‘’Sungguh unik! Apalagi dibawakan teman-teman kami,’’ tutur Natalie Tarlosky, salah satu penonton, mahasiswi jurusan matematika Swarthmore College, Pennsylvania. 

Konjen RI Arifi Saiman & Ibu Endang bersama personil Gamelan Semara Santi. (Foto: Lilian Christaka)

Suara gending yang menghentak diselingi gendang yang tak kalah kerasnya, seakan meruntuhkan ruang pertunjukan Lang Concert Hall di Swarthmore College, Pennsylvania yang tertata apik dan bersih. Cahaya terang semakin membuat penonton merasa nyaman untuk mengikuti pagelaran yang diprakarsai oleh Thomas Whitman PhD. 

Thomas Whitman PhD.

Lulusan Universitas Pennsylvania ini belajar musik Bali sebagai penerima program beasiswa Luce Scholar.  ‘’Awalnya saya suka mendengar dan tertarik dengan musik Jawa,’’ katanya kepada indonesianlantern.com. Namun hatinya lebih tertarik dengan gamelan dan musik Bali. ‘’Entah kenapa. Gamelan Bali menjadi bagian sehari-hari penduduk Bali,’’ sambung Thomas Whitman yang mampu memainkan seluruh instrumen gamelan, kecuali seruling.

Sejak tahun 1990 Thomas Whitman mengajar di perguruan tinggi Swarthmore College. Lalu pada 1997, ia mendirikan grup Gamelan Semara Santi, bersama suami istri I Nyoman Suadin dan Ni Luh Kadek Kusuma Dewi. Peralatan instrumen musiknya diciptakan dan didatangkan dari Bali oleh mendiang I Wayan Beratha. Nama Semara Santi diambil dari nama tokoh Semar, atau Dewa Cinta dan Santi atau damai.

Grup Semara Santi sering manggung di berbagai perguruan tinggi di Pennsylvania. Bahkan pada 2003, kelompok ini diundang unjuk kebolehan di Kimmel Center, Philadelphia, sebuah gedung kesenian paling bergengsi di Philadelphia. Dan pernah manggung di Carnegie Hall, New York City. 

I Gde Made Indra Sadguna dan Made Ayu Desiari (koleksi pribadi)

Dua tamu istimewa hadir dalam konser hari Minggu itu. Mereka adalah pasangan Indra Sadguna dan Made Ayu Desiari, para artis utama generasi muda Bali. Indra, putra Dr. Iwan Rai, guru musik Thomas adalah dosen Institut Seni Indonesia, ISI di Denpasar, dan meraih gelar Ph.D bidang Ethnomusicology dari Florida State University. Sementara Ayu, istri Indra, adalah penari sekaligus penyanyi serta pengajar ISI, Bali. Ayu sering diundang ke berbagai negara, berkat risetnya mengenai ritual Bali, tarian drama dan lagu-lagu tradisional Bali.

Sebagian anggota Gamelan Semara Santi. (Foto: Lilian Christaka)

Sedikitnya ada 6 lagu ditampilkan kelompok Gamelan Semara Santi dalam pagelaran selama dua jam itu. Bahkan Konsul Jenderal Repulik Indonesia Arifi Saiman beserta Ibu Endang ikut hadir dalam pagelaran yang cukup memukau itu. 

Kelompok musik Bali yang kini berusia 25 tahun itu, tampil dua kali setiap tahun. Yakni setiap bulan April dan sekitar bulan November atau Desember. Pagelaran kali ini, merupakan konser tahunan Swarthmore College. Bahkan Grup Gamelan Semara Santi  juga mendirikan kelompok gamelan lain. 

Yakni Gamelan Gita Santi, sebuah kelompok gamelan khusus bagi masyarakat umum, bukan pelajar. Di South Philadelphia, Gamelan Gita Santi berkolaborasi dengan Modero Dance dan Philadelphia Folklore Project.

Mereka bertemu setiap Selasa malam di Philadelphia Praise Center 1701 McKean Street. Para pemula dipersilakan bergabung. Juga kelompok anak-anak mulai 7-11 tahun yang bisa bertemu pukul 5.15 hingga 6.00 petang. Sedangkan grup komunitas mulai usia di atas 12 tahun, berkumpul pukul 6.15 hingga 8.15 malam. Silakan kontak Eric Morales <eric@folkloreproject.org>

Konjen RI dan Ibu bersama sebagian warga Philadelphia. (Foto: Lilian Christaka)

Sudah sejak beberapa tahun, kelompok ini aktif di Philadelphia. Karena itu, Thomas Whitman mengimbau agar masyarakat Indonesia ikut berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaan Indonesia di Philadelphia. ‘’Mari kita galakkan kesenian Indonesia di Philadelphia,’’ kata Thomas Whitman.  (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Mission News Theme by Compete Themes.