Press "Enter" to skip to content

Kisah Bisnis Kuliner Rumahan, Pasca Harga Minyak Goreng Naik

Oleh: Susandijani

Harga tahu goreng Sumedang di sebuah outlet di kawasan Tanggerang Selatan, Jawa Barat, pada awal April 2022, menjadi Rp 29.000 per 15 potong tahu, sebelumnya Rp24.000.  Seorang ibu yang sehari sebelumnya membeli dengan harga lama, kaget, kok naik? Katanya pada penjual.

Si penjual, iya ibu, migor ( sebutan viral dari minyak goreng, red) naik soalnya.  Tapi kekagetan si ibu, tak berhenti sampai di sana, ternyata harga satu buah leupet (nasi yang dibungkus daun dan dikukus) isi oncom, pun ternyata naik Rp 1000, menjadi Rp 5000 per buah.

“Lah leupet oncom ini kan tidak digoreng, kok naik juga,” kata si ibu. Penjual berusaha menjawab dengan bijak, “Iya bu, gas, bensin, pulsa juga naik soalnya,” ujarnya menjawab salah tingkah.

Rina, pemilik Rinn Homecooking {Koleksi Rinn Homecooking}

 Cuplikan itu mungkin juga terjadi di berbagai tempat di seluruh penjuru Indonesia, bahkan dunia.  Saat itu, tak hanya harganya yang naik, pasokan migor pun seringkali langka. Konon ini akibat  CPO atau Crude Palm Oil, yang harganya ‘terbang’ sejak pertengahan 2020, sehingga perusahaan memilih pasar ekspor. Efeknya, stok migor ini  menjadi langka di dalam negeri. Harganya pun kini menjadi Rp 14 ribu per liter (rata-rata),  naik dua kali lipat dari sebelumnya.

Belum lagi, saat itu, Pajak Pertambahan Nilai atau PPN diumumkan juga naik menjadi 11 Persen. Sudah bisa ditebak, hampir semua kebutuhan pokok terkena imbasnya.

Belum lagi, sebelumnya, pada Maret 2022, harga BBM non subsidi, pun ikut naik, menyesuaikan dengan harga minyak dunia yang terus menanjak. Kenaikan harga jual BBM berkisar antara Rp 850 – Rp 1.600 per liter. Sementara LPG tabung 12 kg di tingkat agen resmi rata-rata di jual dengan harga Rp 191.000 hingga yang paling mahal sebesar Rp 198.000 per tabung. Sebelumnya ‘hanya’ sekitaran Rp 155.000 per tabung.

Ujungnya jelas berimbas kepada semua lini kehidupan. Termasuk bisnis kuliner rumahan seperti yang dijalankan Rina.  Bagi perempuan yang telah menjalankan bisnisnya hampir empat tahun ini, kenaikan LPG dan BBM, paling sangat mengganggu.  “Juga, bahan baku kue yang meningkat drastis seperti butter dan produk impor lainnya,” ujar pemilik Rinn Homecooking yang terkenal dengan cream puff-nya yang lezat, ini.


Tak hanya itu, biaya produksi juga meningkat gara-gara ongkos ojek online naik.  “Selama ini kami belanja secara online di market place,” katanya. Bisa dimaklumi jika harga produk pun ikut-ikutan melambung, meski tak semua dinaikkan.

Beruntung Rin Homecooking memiliki loyal customer yang paham dengan standar kualitas rasa produk. “Jadi  kami menyiasatinya dari kemasan mau pun dekorasi yang tampil lebih clean dan simple, meski tetap menarik,” ujar Rina. Sementara untuk harga, ada yang terpaksa dinaikkan sedikit, tapi ada juga yang harganya masih sama. Untuk itu, Rina harus rela jika keuntungannya turun sekitar 20 hingga 30 persen dari total seluruh penjualan.

Banana Loaf by Rinn Homecooking

Pada awalnya, ketika gonjang-ganjing semua pada naik, jumlah pesanan pun berpengaruh. Tapi kini sudah mulai stabil, “Ada konsumen lama yang mulai jarang order, tapi banyak konsumen baru yang antusias dengan produk kami. Seleksi alam, hahaha,” ujarnya yang dihubungi lewat pesan elektronik ini. 

Kisah serupa juga terjadi pada penggiat bisnis kuliner di kawasan perumahan  Cibubur. Yati, misalnya. Ibu rumah tangga yang sudah menjalankan usaha makanan kecil seperti Onde, Pastel, Kue Sus, dan lain-lain selama 10 tahun, ini pun sangat merasakan dampak akibat dari kenaikan semua bahan pokok ini.

Seperti yang dialami Rina juga, pada Maret 2022 saat Yati akan membuat pesanan kue sus, dia sempat terhenyak dengan harga butter yang digunakan untuk membuat vla, isian kue sus itu. “Harganya sampai Rp 160 ribu per kg, padahal sebelumnya kurang dari Rp 100.000,” katanya.

Saat itu, menurut Yati, produknya pun sulit dicari. “Saya sampai harus pesan ke teman,” katanya menambahkan. Kue harus tetap dibuat, karena pesanan sudah diterima dan tak mungkin dibatalkan meski dengan harga butter lama.

Soal harga, Yati hanya berani menaikkan angka sedikit saja. “Tak berani besar-besar, karena tahun lalu sudah naik, gara-gara bahannya pada naik juga,” katanya. Harga wijen untuk pembuatan Onde-onde, katanya sudah naik sampai 5 kali, kacang hijaunya pun naik sampai 3 kali. “Bingung harus berapa naiknya lagi, akan terlalu mahal,” tambahnya dengan nada gemas.


Belum lagi kemasan kuenya, pun harganya naik sampai 50 persen. “Dulu kemasan plastik untuk menyimpan kue dagangan hanya Rp. 60.000 per 50 lembar. Sekarang harganya jadi Rp 90 ribu,” .

Yati dan kue onde dan kue sus, hasil buatannya (koleksi pribadi Yati)

Karena angka yang mepet itu, jika sebelumnya Yati bisa menitipkan jualannya di pasar atau penjual lainnya, kini tak berani lagi. Dari 10 pedagang yang biasanya dititipkan, kini hanya tinggal tiga lagi yang masih berani menjual kue-kuenya dengan harga lebih mahal dari biasanya.

Jumlah produk yang dijual, jelas berkurang sampai hampir sepertiganya saja. Dari biasanya 300 Onde, misalnya, kini hanya produksi 100 saja, atau 200-an di akhir minggu atau saat ada pesanan. Demikian juga dengan jenis kue lainnya.

Kenaikan harga BBM juga berdampak jelas pada sosok ibu tiga anak ini. “Karena diantar kan pakai motor, bolak balik, terasa banget bensin cepat habis. Dulu 20 ribu bisa full tank, sekarang tak sampai tiga strip,” katanya meski sambil tertawa.

Meski demikian, harga kue-kuenya tak berani dilambungkan. Agar tak terlalu rugi banget, kini Yati menerapkan sistem minimal order. Jadi kue-kuenya pun bisa dibuat sekalian dalam jumlah tertentu. “Lumayan menghemat gas dan tenaga, juga bensin saat pengantaran,” katanya sambil menambahkan bahwa keuntungan yang dia dapat kini berkurang sampai 30 persen.

Di sisi lain, kondisi pandemi covid yang berlangsung sejak awal 2019 ini, pun ternyata menimbulkan ‘masalah’ lain. “Di masa pandemi itu, sepertinya banyak ibu rumah tangga yang belajar bikin kue dan kemudian menjualnya. Ini jadi masalah juga. Saingan jadi banyak, hahaha,” ujarnya tertawa miris

Namun Yati tetap semangat, apalagi kini sudah mulai banyak masyarakat yang mengadakan acara dan memesan kue-kuenya.  “Sekarang banyak yang pesan snack box, syukurlah,” katanya antusias. Sebelum pandemi, Yati juga dikenal sebagai pemasok snack box kepada beberapa perusahaan. Paling tidak, dia  harus menyediakan 200 kue setiap hari untuk pesanan reguler itu.

SUS CREAM PUFF by RINN_HOMECOOKING

Harga migor dan bahan baku lainnya yang melambung, Ramadan, serta pandemic Covid, rupanya menjadi kombinasi kompak yang membuat situasi bisnis bisa terpuruk atau malah tumbuh dengan manisnya. Tergantung bagaimana menyiasatinya.

Rina dan Yati adalah contoh pengusaha rumahan yang tetap lincah di tengah situasi ekonomi yang (mungkin) membingungkan ini. Yaitu antara menaikkan harga jual atau tidak.

Kembali ke kisah awal, pertanyaan besar, mungkinkah si ibu akan kembali ke outlet tahu goreng seperti diceritakan di awal tulisan ini? Sangat diragukan. Meski banyak konsumen yang paham dengan kenaikan produk yang (harus) dibelinya. Tapi jurus jitu Rina dan Yati, mungkin perlu dicontoh. Masih ada cara, agar semua senang. Terpenting modal terus bergulir, meski untung berkurang sedikit. 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *