Press "Enter" to skip to content

Warga Muslim Sebut Philadelphia Sebagai ”Mecca of The West”

Suasana tarawih di Masjid Al Falah, satu-satunya masjid warga Indonesia di Philadelphia, cukup ramai. Lebih-lebih pada hari Sabtu, karena banyak yang libur setelah bekerja sepanjang minggu. Para ibu saling bergiliran memasak makanan atau kue-kue untuk berbuka puasa. Sebelum berbuka puasa, mereka dan anak-anak ber-Tadarus dipimpin oleh Ahmad Gunawan, salah satu pengurus Masjid Al Falah. 

‘’Bahkan dalam kesempatan itu, banyak sekali para jamaah dari berbagai negeri seperti Pakistan, Afghanistan dan Myanmar, tengah menikmati hidangan berbuka puasa,’’ kata Syarif Syaifulloh, yang merekam seluruh kegiatan diaspora Indonesia di Philadelphia ke dalam akun YouTubenya.

Rata-rata setiap akhir pekan 100 orang mengikuti acara berbuka puasa yang digelar Masjid Al Falah. Jumlah ini semakin meningkat mendekati Hari Raya Idul Fitri. Maklum, mayoritas jamaah masjid harus bekerja tujuh hari seminggu, dan hanya bisa hadir malam hari.

Pada hari Senin 2 Mei 2022 nanti, Masjid Al Falah akan menggelar Sholat Idul Fitri di Taman Franklin D. Roosevelt, FDR Parks. Sekitar 500 warga Muslim di Philadelphia dan sekitarnya, diperkirakan bakal menghadiri sholat rutin yang digelar setiap tahun oleh Masjid Al Falah itu. 

Kali ini, sholat Ied akan dimulai pukul 8.30 pagi dan dipimpin Imam/Khatib Sheikh Muhammad. Tentu saja setelah sholat, akan digelar acara saling bersilaturahmi dan makan bersama yang menghidangkan berbagai masakan Indonesia. 

Kehadiran warga Muslim Indonesia di Philadelphia tak terlepas dari banyaknya warga Muslim yang bermukim di Philadelphia. Penduduk Muslim di kota ini tercatat sekitar 150 ribu sampai 200 ribu penduduk, atau 10-15 persen dari total 1,6 juta penduduk Philadelphia. ‘’Kami sebut Philadelphia adalah Mecca of The West,’’ kata Aliya Z. Kabir, direktur AZK Communication, sejenis perusahaan telemarketing di Philadelphia. 

Sementara itu, Council on American Islamic Relations, CAIR tidak memiliki angka tepat. ‘’Karena dalam sensus penduduk tidak boleh menyebutkan agama seseorang,’’ tutur Ahmet Selim Takelioglu, Education and Outreach Director Philadelphia Chapter CAIR kepada Indonesianlantern.com. ‘’Tapi kami perkirakan sekitar 400 ribu warga Muslim di Philadelphia,’’ sambungnya.

Jumlah kaum Muslim di Philadelphia tidak berbeda dengan Chicago dan Detroit. Apalagi, menurut sensus 2011, Philadelphia memiliki 63 buah masjid, di bawah kota New York, Southern California dan Chicago. 

Tentu saja belum termasuk Masjid Al Falah yang baru dibangun awal tahun 2000. Hingga kini Masjid Al Falah masih menempati lokasi di S 17th Street, Philadelphia, di antara deretan rumah penduduk, karena masih berbentuk usaha non-profit, bukan tempat ibadah. Ijin mendirikan masjid di tengah penduduk cukup rumit dan harus minta ijin ke penduduk sekitarnya.

Penduduk Muslim yang mayoritas berasal dari Arab dan Timur Tengah berpencar di berbagai kawasan Philadelphia. Seperti di kawasan Feltonville, Philadelphia Utara dan sekitar Front dan Girard Street tempat Masjid Al Aqsa. Sementara di kawasan Selatan Philadelphia, di antara warga Muslim Indonesia, banyak komunitas Asia lain seperti dari Bangladesh, Myanmar, Pakistan, India, Malaysia dan lainnya.

Budaya Muslim juga terasa di kawasan pemukiman kaum Muslim Philadelphia Utara. Mulai dari pria berjenggot, wanita berjilbab serta sapaan akrab seperti ‘What’s up Ach’’ juga terdengar kaum lelaki Muslim saling berpapasan. ‘’Ach berasal dari kata Arab yang artinya Brother,’’ kata Omar Woodard, profesor dari Temple University. Lelaki berkulit gelap itu kini menjadi Kepala Venture Philanthropy Center di Washington DC, serta penasehat sejumlah perusahaan nirlaba lainnya.

Di Philadelphia, banyak warga Muslim menduduki jabatan-jabatan tinggi. Seperti anggota Dewan Kota, seorang senator, kepala polisi, dan lainnya. Serangkaian hari raya Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha menjadi hari libur di dalam sistem pendidikan Philadelphia. Sejak 2017, City Hall of Philadelphia menggelar Makan Malam Iftar untuk merayakan Bulan Suci Ramadhan. 

‘’Ke mana pun anda pergi, pasti ada Muslimnya. Entah itu di bank, rumah sakit, kepolisian dan lainnya,’’ tutur Malik Shabazz, insinyur kimia di Badan Perlindungan Lingkungan kepada harian The Washington Post. Shabazz, pernah menjadi imam di Masjid Masjidullah yang beralamat 740 Limekiln Pike, Philadelphia.

Kehadiran Islam di Philadelphia di awal 1950-an, tak terlepas dari peranan Malcolm X. Setelah bebas dari penjara – akibat tindak kejahatan dan perampokan – pria kelahiran Nebraska, Omaha bernama Malcolm Little ini bergabung dengan organisasi ‘Nation of Islam’ di Chicago. Malcolm yang kemudian menjadi asisten Elijah Muhammad diberi tugas mendirikan sejumlah masjid. Pertama di Detroit, lalu seterusnya di beberapa kota lain.

Pada tahun 1956, Malcolm X mendirikan Masjid ke-12 di Philadelphia. Di masjid yang terletak di 1319-21 West Susquehanna Avenue itulah, Malcolm mulai sadar bahwa Nation of Islam yang dipimpin Elijah Muhammad tidak berjalan sesuai ajaran yang menurutnya benar. Bahkan, terdengar desas-desus, bahwa Elijah Muhammad punya hubungan intim dengan beberapa sekretaris Nation of Islam. 

Hal ini mendorong Malcolm X, membulatkan tekad untuk memisahkan diri dari Nation of Islam. Malcolm yang baru kembali menunaikan ibadah haji di Arab Saudi pun keluar dan mendirikan organisasi agama baru bernama ‘Muslim Mosque Inc’ atau MMI. Ia juga mendirikan organisasi politik bernama ‘Organization of Afro-American Unity, OAAU, yang cenderung membela kaum kulit hitam AS. Tidak seperti Nation of Islam yang dinilai arogan dan tidak membela kemiskinan dan ketimpangan warga hitam AS. 

Nama Malcolm X pun berkibar. Malcom menghilangkan nama Little – nama belakangnya, sebutan oleh tuan tanah kulit putih saat ia kecil – dan mengubahkan dengan huruf X. ‘’Huruf yang memberikan simbol nama keluarga kulit hitam yang kita tidak tahu sampai sekarang,’’ kata Malcolm yang kelak mengubah namanya lagi menjadi Malcolm Shabazz atau Malik el-Shabazz. Namun ia tetap dikenang sebagai Malcom X.

Namanya semakin dikenal di antara para pemimpin Islam di negara-negara Arab. Bahkan, petinju Cassius Clay pun terkesima dengan Malcolm, yang kemudian menjadi pemeluk Islam dengan nama Muhammad Ali, setelah mendengar pidato Malcolm X yang memukau.

Ketenaran Malcolm X membuat iri hati kelompok pendukung Nation of Islam. Saat hendak berpidato di depan forum OAAU di Audubon Ballroom, Manhattan New York, seorang kulit hitam mengacungkan pistol di depannya dan berteriak. ‘’Nigger! Get your hand outta my pocket,’’ teriaknya di depan 400 hadirin. Terdengar letusan pistol dan dada Malcolm X pun bersimbah darah. Pelakunya, bernama Talmadge Hayer, anggota Nation of Islam pun ditangkap.

Kabar yang tersiar menyebutkan, pembunuhan itu atas perintah Muhammad. Pimpinan Masjid ke-7 di Boston itu pernah mengutarakan kegeramannya pada Louis Farrakhan, salah satu pimpinan Nation of islam. ‘’Hipokrit seperti Malcolm harus dipenggal kepalanya,’’ katanya. Kata-kata itu dikutip dalam karikatur sebuah harian internal Nation of Islam. Lalu, pembunuhan pun terjadi.

Kini Nation of Islam, NOI pimpinan Louis Farrakhan lebih berkibar dibandingkan kelompok ‘Muslim Mosque Inc’ atau MMI. Louis Farrakhan kerap kali tampil di forum-forum lokal, tampil berjas rapi mengenakan kacamata hitam, dan dijaga dua centeng. Tampaknya kelompok ini beraliran Sunni, sedangkan MMI lebih cenderung ke Syiah. (DP)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *