Press "Enter" to skip to content

Pembantaian di Buffalo Dilakukan Pemuda 18 Tahun

Pembantaian Sabtu 14 Mei 2022 itu berlangsung cepat. Payton Gendron, tersangka pelakunya berhenti di pelataran parkir supermarket Tops di 1275 Jefferson Avenue, Buffalo. Bocah berusia 18 tahun itu turun dari mobilnya, menuju ke pintu masuk supermarket yang menjadi pusat belanja kaum hitam. 

Sambil berjalan, ia mengokang senjata otomatisnya dan menembak beberapa orang yang dijumpainya. Satu per satu. Begitu juga setelah ia memasuki toko serba ada itu. Setiap korbannya ditembak begitu saja, tanpa ampun. Bahkan satu di antaranya, yang telah tergeletak di lantai, ditembak kepalanya. 

‘’Hari itu akhir pekan, penuh pengunjung,’’ tutur Shonnell Harris, manajer operasional yang bekerja Tops Market saat kejadian. ‘’Dia kelihatan seperti tentara,’’ lanjut Shonnell Harris, wanita kulit hitam kepada The Buffalo News.

Tak lama setelah melakukan aksinya, Payton Gendron keluar gedung menuju mobilnya. Dua petugas kepolisian yang berada di lokasi, mengacungkan pistolnya dan memerintahkan pelaku menyerahkan diri. Payton kemudian meletakkan senjata otomatisnya dan berlutut sesuai perintah, dan ia ditangkap.

Braedyn Kaphart dan Shayne Hill, dua pengunjung yang berpapasan dengan pelaku, menjelaskan ‘’Dia tampaknya sudah siap untuk bunuh diri,’’ kata Kaphart. Pelaku, lanjutnya, ‘’Mengarahkan moncong senjatanya ke pipinya, berlutut dan hendak meledakkan kepalanya,’’ kata Kaphart. Entah kenapa, pelaku tak melanjutkan aksinya, meletakkan senjata dan menyerahkan diri ke dua polisi yang siap menembaknya. 

Sabtu malam, Payton Gendron yang berasal dari Conklin, Kecamatan Broome, dekat Binghamton, Buffalo digiring ke Pengadilan Kota Buffalo dan Hakim Craig Hannah mendakwa dengan pembunuhan tingkat pertama. Ancamannya hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Tercatat ada 13 korban penembakan dalam tragedi berdarah yang berlangsung di kawasan kulit hitam itu. 11 orang di antaranya berkulit hitam dan dua berkulit putih. 10 korban dinyatakan tewas dan tiga luka parah. Dua di antaranya adalah Aaron Salter, pensiunan polisi setempat yang bekerja sebagai Satpam di Tops Market. Dan Ruth Whitfield, istri mantan Kepala Satuan Pemadam Kebakaran setempat.

Stephen Belongia, kepala FBI lokal mengungkapkan pihaknya tengah meneliti kasus ini. ‘’Entah  tindak kriminal berdasar kebencian, bermotif rasialisme atau kekerasan kaum ekstrimisme,’’ katanya. Sementara kepala kepolisian setempat, Sheriff John Garcia menegaskan. ‘’Ini benar-benar bermotif kebencian rasialisme,’’ tandasnya. ‘’This person was pure Evil!,’’ lanjutnya. Pernyataan itu dikeluarkan setelah menyaksikan hasil rekaman Payton Gendron, tersangka pelaku, yang merekam selama melakukan aksinya.

Sedikitnya empat tubuh korban ditemukan di lapangan parkir. Sementara di dalam supermarket itu, ditemukan sejumlah korban. Beberapa di antaranya dalam posisi bersembunyi di jalur pembayaran ke kasir.

Payton Gendron yang akan berusia 19 tahun bulan depan, tercatat sebagai mahasiswa SUNY Broome Community College, ‘’Tapi dia tidak tercatat lagi di sini,’’ tutur direktur pemasaran kampus tersebut. Sebuah manifesto setebal 180 halaman yang konon ditulis Payton Gendron, beredar di media sosial beberapa jam setelah peristiwa berdarah itu. Tapi tidak ada seorang pun yang berani memastikan manifesto penuh kebencian rasialis itu ditulis Payton Gendron.  

Kasus ini menjadi peristiwa terburuk sepanjang sejarah Buffalo. Kota yang berada di negara bagian New York ini terletak dekat perbatasan dengan Canada. Kota berpenduduk 278.349 jiwa ini adalah kota terbesar setelah Kota Metropolitan New York, New York. Jika anda pernah ke tempat wisata air terjun Niagara Falls, anda akan melewati Buffalo, karena terletak dekat Sungai Niagara. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *