Press "Enter" to skip to content

Kisah Djadjat Sudradjat, Mantan Pemimpin Redaksi Media Indonesia Jadi Politisi

Benang Merah Jurnalisme dan Politik, Bekerja untuk Memuliakan Publik

INDONESIANLANTERN, BANYUMAS- Di dunia literasi jurnalistik, nama Djadjat Sudradjat sudah tak asing. Terlebih di Media Group, namanya sangat diperhitungkan. Selama 30 tahun menjadi jurnalis, hampir semua posisi di perusahaan pers pernah ia duduki. Mulai reporter, redaktur, hingga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Media Indonesia, Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Umum Lampung Post, hingga anggota Dewan Redaksi Media Group.

Hingga suatu ketika, tibalah ia di persimpangan jalan. Ia harus memilih antara melanjutkan profesi yang membesarkan namanya. Atau banting setir ke dunia politik yang baru baginya. Ada tawaran untuk maju di pemilihan legislatif di tanah kelahirannya, Kabupaten Banyumas, 2019.
Pers adalah dunia yang sulit ditinggalkan. Profesi itu sudah terlanjur mendarah daging. Terlebih bagi Djadjat, jurnalis lebih dari sekadar profesi, namun jalan mencapai kemuliaan.
“Menulis bisa memengaruhi keputusam kekuasaan. Kita bisa mengkritik abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan). Itu bagian sumbangsih jurnalistik,” katanya.

Sampai ia menemukan benang merah antara politik dan jurnalisme. Meski jalan yang ditempuh berbeda, keduanya ternyata memiliki tujuan sama, yakni memuliakan publik. Sama halnya pers, seluruh energi politik harusnya dikerahkan untuk kebajikan publik. Dari situ ia mulai tergoda.
Melalui pemberitaan di koran, jurnalis bisa memperjuangkan kepentingan publik. Begitu pun di lembaga politik, seorang bisa memperjuangkan kepentingan publik dengan cara berbeda. Karenanya ia merasa tertantang.

“Kebajikan tertinggi politik adalah publik. Memuliakan publik adalah tujuan politik. Jurnalisme sama, orientasinya adalah kepentingan publik,” katanya.

Dari Sastrawan ke Wartawan

Terlahir di daerah pinggiran Kabupaten Banyumas, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir, nasib Djadjat Sudradjat tak seberuntung teman-teman sebayanya. Ia sudah kehilangan sosok ayah sejak belia (yatim). Beruntung Djadjat memiliki ibu yang perkasa. Baginya, bundanya bukan sekadar tulang punggung keluarga, namun sekaligus guru terbaik baginya.

Ia fasih bercerita. Wawasannya di atas rata-rata perempuan desa. Pengetahuan mengenai sejarah kerajaan, perjuangan kemerdekaan, hingga dunia pewayangan berada di luar kepala. Dari situ tradisi intelektual Djadjat bermula.

“Sampai saya ingin jadi dalang,” katanya.

Menginjak SMA, Djadjat memutuskan melanjutkan pendidikan di Jakarta.
Di kota, ia akan lebih mudah mengembangkan imajinasinya. Tradisi literasi di sana lebih kuat karena banyak pusat pendidikan berada. Ia juga mudah menemukan kawan berpikir dan memiliki hobi sama, menulis dan membaca. Untuk menopang biaya hidupnya di Jakarta, di sela belajar, ia tak segan menjadi sales barang elektronik.

Kemampuan menulis Djadjat semakin terasah ketika ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Indonesia. Djadjat mengambil jurusan sastra yang lekat dengan dunia kepenulisan, sesuai minatnya.

Ia pun sempat terobsesi menjadi sastrawan dan penulis. Namun angannya patah ketika dihadapkan pada realitas yang tak mengenakkan. Di negeri ini, sastrawan kurang dihargai ternyata. Berbeda di negara lain, misal di Malaysia, sastrawan difasilitasi negara.

“Di Indonesia, banyak seniman terkenal, tapi ekonomi kurang beruntung,” katanya.

Dari situ ia terbesit menjadi wartawan. Dengan menjadi jurnalis, ia bukan hanya bisa menyalurkan hobinya menulis, namun juga memeroleh penghasilan bulanan. Tak sulit bagi Djadjat untuk masuk ke industri media. Pengalamannya menulis saat mahasiswa jadi modal baginya diterima bekerja. Bahkan, ia berhasil masuk tanpa tes karena kualitas tulisannya telah teruji.

Meski sudah terbiasa menulis, Djadjat tetap harus menyesuaikan diri menjadi jurnalis. Menulis esai atau sastra sudah biasa baginya, namun tidak untuk menulis berita yang punya aturan tersendiri, misal harus memenuhi unsur 5 W 1 H.

Tapi ia menikmati pekerjaan itu. Menulis hanya satu di antara banyak keasyikan dalam kegiatan jurnalistik. Profesi itu menuntutnya bertemu dengan nara sumber yang berbeda tiap hari. Ia jadi mengenal dan hafal watak nara sumber dari berbagai latar belakang. Jurnalis juga dituntut terdepan dalam memberikan informasi sehingga wawasannya terus berkembang.

Satu lagi yang membuatnya jatuh hati pada profesi ini, jurnalisme bisa menjadi alat perjuangan. Melalui karya jurnalistik, ia bisa memengaruhi kebijakan negara, agar berpihak kepada kepentingan publik.

“Jurnalis bekerja untuk publik, menjadi anjing penjaga kekuasaan,” katanya.

Membangun Banyumas dari Pinggiran

Kini, sejak 2019 lalu, Djadjat tak lagi bekerja di kamar redaksi. Namun nalurinya sebagai jurnalis tetap ada. Pengalaman 30 tahun sebagai jurnalis, sejak tahun 1990, membantunya mudah berkembang di posisi manapun. Termasuk di dunianya saat ini sebagai politisi.

Djadjat berhasil melenggang ke DPRD Kabupaten Banyumas dalam Pemilihan Legislatif tahun 2019. Djadjat yang dapilnya daerah pinggiran, punya misi untuk memeratakan pembangunan. Ia menilai pembangunan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Banyumas belum merata.

Pembangunan selama ini hanya terfokus di perkotaan atau yang dekat dengan pusat kakuasaan. Semakin ke pinggir, daerah biasanya kian tak terperhatikan pembangunannya.

Tak ayal, daerah pinggiran lekat dengan citra masyarakatnya yang tertinggal, baik ekonomi, pendidikan, hingga akses kesehatan. Ia ingin membalik paradigma pembangunan yang tak berkeadilan itu.

“Padahal kalau kondisi perang, yang diserang musuh pinggir duluan. Jadi mestinya daerah pinggiran harus diprioritaskan pembangunannya,” katanya.

Saat maju sebagai calon legislatif (caleg), tidak mudah bagi Djadjat memikat masyarakat yang sudah terbiasa dengan politik praktis. Sementara Djadjat, dengan idealisme yang kuat, ingin menghindari cara kotor itu. Alhasil, ia harus mencari strategi lain yang lebih elegan untuk meraup dukungan masyarakat.

Di tengah kampanye, ia sekaligus memberikan pendidikan politik ke masyarakat agar mereka bijak memilih wakil yang tepat. Meski konsekuensinya, cara seperti ini butuh energi lebih besar.

“Saya mewakili jenengan (anda) duduk di DPRD Banyumas, mestinya jenengan yang saya wakili urunan (iuran) untuk saya. Tapi kan selama ini gak seperti itu. Saya (calon) yang harus memberi jenengan,” katanya.

Nyatanya ia berhasil terpilih dengan cara elegan. Sesuai komitmennya, ia bertekad membangun Banyumas dari pinggiran. Ia memanfaatkan jaringannya di tingkat pusat untuk ikut mengintervensi pembangunan di Banyumas. Misalnya, ia bekerjasama dengan DPR RI dan BUMN untuk program bedah rumah, bantuan pompa air untuk mengatasi kekeringan di Kecamatan Lumbir, serta penerangan tenaga surya.

Pengalaman Djadjat yang matang sebagai jurnalis membuatnya berpikir out of the box. Ia berani membuat terobosan yang jarang terpikirkan anggota dewan lainnya. Meski ia sadar, program yang diinisasinya kurang menguntungkan secara politis.

Umumnya dana aspirasi dipakai untuk pembangunan infrastruktur yang langsung dirasakan masyarakat. Namun Djadjat memilih memanfaatkannya untuk meningkatkan akses layanan pendidikan di masyarakat. Pendidikan merupakan aspek penting untuk memajukan masyarakat. Ia tak segan menggunakan dana aspirasi untuk membeli buku dan mengembangkan perpustakaan di desa.

Ia sadar, di tengah budaya literasi yang lemah di Indonesia, di era digital, masyarakat semakin jauh dari buku. Apalagi jika tidak ada fasilitas perpustakaan atau rumah baca di sekitar mereka.

Ia tak ingin merawat Dapil dengan hanya berorientasi pada pengumpulan suara. Program-programnya, misal pengembangan perpustakaan, atau institusi pendidikan mungkin baru bisa dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Beda dengan pembangunan infrastruktur yang bisa dirasa langsung masyarakat, sehingga lebih efektif untuk mendongkrak suara. Namun Djadjat tak pernah khawatir kehilangan dukungan. Ia punya banyak jalan untuk memuliakan publik. Kekuasaan hanya di antaranya.

“Kalau mengarah ke infrastruktur semua, yang memikirkan dunia pendidikan siapa. Saya bismillah saja,” katanya. (Khoirul Muzakki)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *