Press "Enter" to skip to content

Philadelphia Rayakan Berakhirnya ”Asian America & Pacific Islander Heritage Month”

Sekitar 100 pengunjung hadir di acara yang digelar di kantor Walikota Philadelphia, Kamis 26 Mei 2022. Sejumlah tari-tarian dan sambutan digelar di halaman Kantor Walikota yang terletak di Center City, Philadelphia. Ada tarian dari Filipina, Kamboja dan Korea.

Keramaian akbar itu digelar untuk menandai penutupan Bulan AAPI atau lazim disebut ”Asian American and Pasific Islander Heritage Month”, di akhir Mei ini. Sejumlah wakil komunitas Asia berpidato menyambut peristiwa itu.

Uriol, Korean Percussions (Dewi Broadhurst & Lilian Christaka)

Sekitar pukul 4.00 sore, acara dimulai dengan pidato Romana Lee-Akiyama, Director Mayor’s Office of Public Engagement Philadelphia, lalu pidato dari beberapa pejabat lain, serta Romo Kurniawan, wakil dari Indonesia. Pemimpin Gereja Katolik itu menjelaskan sejak awal ditugaskan di Philadelphia dan menjadi panutan bagi diaspora Indonesia, dan kendalanya.

Yang lebih seru adalah acara penjualan buku ”Rise: A Pop History of Asian America from the Nineties to Now”. Acara yang berlangsung di dalam ruang Conference Room City Hall itu dihadiri 100 orang lebih. ”Bukunya ludes diborong pembeli, tidak ada sisa sama sekali,” tutur Dewi Broadhurst, yang ikut menjadi panitia acara itu.

Jeff Yang, salah satu dari tiga penulis buku itu hadir di acara tersebut, sementara Phill Yu hadir lewat media online. Untuk memikat penonton, Jeff Yang membawa poster yang mengingatkan masa-masa kecil warga Asia umumnya. Misalnya warga Asia suka makan nasi dengan daging kaleng merk Spam, yang digoreng dengan campuran telur. ”Anak-anak Asia harus menurut dan patuh kata-kata orang tua,” tutur Jeff Yang.

Dalam kesempatan itu, kedua penulis buku itu tak lupa mengingatkan anak-anak muda Asia tidak selalu diam. ”Speak Up!!” Jeff Yang juga menyadarkan warga Asia mengapa harus ada sebutan Asian American? ”Kenapa tidak ada Asian Europe atau Asian British,” tutur Dewi Broadhurst yang hadir di acara bedah buku itu. Selain itu, Jeff Yang juga bercerita tentang intimidasi yang dialami warga Asia di Amerika.

Lilian Christaka, Pendeta Hendy S. Matahelemual (ILC Church); Romo Kurniawan (St. Thomas Aquinas), dan Dewi Broadhurst.

Buku berjudul ”Rise” adalah sebuah buku yang bercerita tentang warga Asia di AS. Seluk beluk kehidupan warga Asia ini ditulis berdasar kisah kehidupan warga Asia yang jumlahnya lebih dari 24 juta jiwa. Warga keturunan China menempati angka tertinggi dengan lebih dari 5 juta orang, disusul India, Filipina dan beberapa warga lainnya. Warga Indonesia masih menempati urutan bawah dengan jumlah hampir 117 ribu orang.

Tiga penulis buku berjudul lengkap ”Rise: A Pop History of Asian America from the Nineties to Now” ini, sangat dikenal di antara warga Asia di AS. Jeff Yang misalnya, berpengalaman menulis tentang komunitas Asia Amerika selama 30 tahun. Ia juga menerbitkan majalah nasional Asian America pada awal tahun 1990-an, dan kini memberi kontribusi ke sejumlah media elektronik seperti CNN, Quartz, Slate dan lainnya. Bahkan bukunya berjudul I am Jackie Chan: My Life in Action; Once Upon a Time in China menjadi buku memoar terlaris versi The New York Times.

Suasana diskusi buku di Kantor Walikota Philadelphia (Dewi Broadworth/Lilian Christaka)

Phil Yu adalah pendiri dan editor blog kondang Angry Asian Man, blog berisi berita dan ulasan kultural yang digarap sejak 2001. Ulasannya banyak dikutip di sejumlah media massa AS seperti The Washington Post, The New York Times, The Wall Street Journal dan lainnya.

Sedangkan Philip Wang adalah salah satu pendiri Wong Fu Production yang menggarap sejumlah video dan film tentang warga Asia. Pengikutnya di Youtube mencapai 3,6 juta, juga di media sosial seperti Facebook , Instagram dan Twitter.

Karena itu bisa dimaklumi bila buku ”Rise: A Pop History of Asian America from the Nineties to Now” dipuji banyak orang. ”Buku ini seperti restoran cepat saji yang menawarkan makanan lengkap ke pembacanya,” tulis NBC News. ”Buku ini seperti karya penuh warna tentang warga Asia Amerika, selama 30 tahun perjalanan hidupnya,” tulis San Francisco Chronicle.

Suasana di pelataran Kantor Walikota Philadelphia (Dewi Broadhurst & Lilian Christaka)

Acara yang berlangsung hingga pukul 4.30 sore itu berlangsung cukup sukses. ”Upaya kami untuk meramaikan acara ini dengan menampilkan tari-tarian dari warga Asia cukup mengesankan,” tutur Dewi Broadhurst. Bersama-sama dengan Lilian Christaka – mereka mewakili MCAPAA (Mayor’s Commission on Asia Pacific American Affairs) – keduanya berinisiatif untuk menampilkan atraksi tari-tarian Asia itu. Sedangkan kedua penulis buku itu, diundang oleh Asian Art Initiative, pimpinan Anne Ishii, Executive Director organisasi nonprofit tersebut,  juga mewakili MCAPAA. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *