Press "Enter" to skip to content

Johny Depp Menang Media Sosial Dipersalahkan

Oleh: Bunga Kejora Trihusodo

Jumlah pengguna aktif media sosial ( medsos) naik terus di Amerika Serikat. Tahun lalu, 223 juta orang, sekarang ada 270 juta netizen atau sekitar 80 % dari populasi AS. Yang terbanyak adalah pengguna Youtube dan Facebook, menurut Pew Research Centre, lembaga riset non partisan yang berdiri sejak 2004. Sedangkan Instagram, Snapchat dan Tiktok secara umum dunianya warga berusia di bawah 30 tahun.

Lalu, ada masalah dengan media sosial?  Ada. Di kasus pencemaran nama baik aktor Johnny Depp melawan mantan istri Amber Heard, lawyer Elaine Bredehoft marah pada ulah netizen, “Hebohnya seperti koloseum jaman Romawi,’’ kata Elaine, pengacara generasi baby boomer dalam wawancara televisi CBS Morning. Ia muncul sehari setelah kliennya, Amber Heard, kalah. Amber dijatuhi denda ganti rugi 10 juta dollar plus 350.000 atas tulisannya di rubrik opini Washington Post Desember 2018, meski ia juga divonis akan menerima ganti rugi 2 juta dollar dalam gugatan baliknya.

Elaine ingin mengatakan, sikap warganet di medsos kasar, tak terbendung, pertarungan yang kuat melawan yang lemah, mirip cerita film Gladiator. Sialnya yang dikuyo-kuyo di medsos itu kliennya.  Komentar miring dan bully terus berulang dalam tulisan dan visual di Tiktok, Twitter, Youtube,  tentang  Amber artis berusia 36 tahun.   Lawyer senior ini sangat  yakin, vonis yang dijatuhkan oleh 7 juri  dalam sidang itu dipengaruhi opini publik di media sosial.

Padahal di setiap jeda dan selesai sidang, hakim Penney Azcarte memperingati saksi dan juri untuk tidak membicarakan kasus, tidak melakukan riset internet. Pendeknya harus lepas dari opini di luar sidang. “ Bagaimana bisa tidak (tau opini medsos). Mereka pulang ke rumah tiap malam, mereka punya keluarga yang mengutak atik medsos,”kata Elaine dengan sebal. “Apalagi ada libur sidang 10 hari, mana mungkin tidak terpengaruh.”

Juri sedianya dianggap dewa dewi keadilan yang indera mata dan telinganya hanya dibuka untuk kasus ini di dalam ruang pengadilan, di Fairfax Virginia, AS. Mereka orang biasa yang dianggap  mewakili suara masyarakat untuk menjatuhkan vonis hanya  setelah mendengar dan melihat segala pernyataan saksi, pembela, bukti-bukti, dan orang yang duduk sebagai penggugat dan terdakwa. Dalam sistem common law di AS, hakim tidak membuat putusan, ia  hanya memimpin proses persidangan, menjelaskan fakta dan dasar hukum pada juri sebagai alasan memutuskan vonis.

 

Putusan telah diambil 1 juni lalu. Tujuh orang  juri, 5 pria dan 2 wanita, berpendapat bulat bahwa tulisan Amber Heard di Washington Post  Desember 2018 telah mencemarkan nama baik Johnny Depp. Saat petugas pengadilan membacakan vonis juri,  di tempat lain, pengunjung padat di sebuah pub di Inggris memonitor putusan lewat televisi raksasa. Mereka ‘histeris’ berteriak, melompat dan semua mengangkat dua tangan begitu Johnny dinyatakan sebagai pemenang.  “ Yes, yes,yes “teriak mereka. Johnny berada di  London, Inggris saat itu untuk  tampil dalam pertunjukan band yang telah diagendakan 3 bulan sebelumnya.

Kalau benar tuduhan Elaine, pertanyaannya, bagaimana mungkin mengorkestrasi jutaan orang untuk mendukung Johnny di medsos. Siapa yang mampu ? “ Kemenangan Johnny berdasarkan fakta dan bukti dalam proses persidangan, “ ujar Camille pengacara Johnny, menjawab tudingan pembela lawan yang kalah. Tidak semua netizen awam. Ada lebih dari sepuluh youtuber ahli hukum juga yang meliput live persidangan, atau mengambil footagenya untuk menganalisa secara hukum, misalnya pengacara praktek Bruce Rivers, Emily Baker dan Spidey, ahli forensik dan bahasa tubuh.

Ketiganya dengan sekitar  600 ribu subscriber di bawah bendera Lawtube .  Ada yang membuat parodi kartun lucu mengenyek kelakuan Amber dan lawyernya. Konten-konten persidangan Johnny dan Amber mendapat sahutan yang tak kalah seru dari netizen. Ribuan komentar muncul dan berkali-kali tagar Johnny Depp menjadi trending topik Twitter.

Bukti rekaman audio dan video dari sidang  terus diamplifikasi lewat media sosial, dan memang saksi-saksi fihak Amber banyak yang kurang kredibiltasnya dibanding saksi yang dihadirkan tim Johnny Depp. Upaya lawyer-lawyer Amber memojokkan dan merendahkan saksi pihak lawan malah menjadi amunisi untuk ditembakkan di ruang medsos.

Contohnya ketika Elaine bertanya pada saksi  bekas karyawan channel berita selebritis TMZ, Morgan Tremaine,“ Anda bersaksi karena ingin populer kan? Kamu tau bahwa sidang ini diliput televisi?” tanya Elaine. “ Tidak. Saya malah kuatir digugat hukum oleh kantor tempat saya dulu bekerja,”kata Tremaine sambil menambahkan,” Saya juga bisa bilang kamu yang ingin terkenal karena bersedia jadi pengacara Amber Heard,” kata anak muda itu. Medsos langsung “pecah”dengan adegan ini yang direrun dengan berbagai versi.

Umumnya netizen berkomentar karena mengikuti jalannya persidangan yang disiarkan online. Tidak asal njeplak.  Mereka mendengar bukti percakapan saat Amber mengaku memukul Johnny dan malah mengejek Johnny sebagai bayi yang tidak berdaya melawan. Para pengacara di youtube mempertanyakan motif Amber merekam saat Johnny ngamuk membanting pintu lemari dapur. Saksi dari TMZ buka kartu bahwa ia menerima video itu dari Amber, sebelum artis itu mengadu ke kantor polisi dengan luka memar di pipi kanan.

Saksi ahli metadata Norbert Neumeister yang berpengalaman selama 32 tahun, memastikan bahwa foto itu hasil touch-up aplikasi. Siapa tak percaya Norbert yang sudah 39 kali mendapat penghargaan Emmy untuk ketrampilan di bidangnya. Langsung sejumlah ahli make up memperagakan cara membuat memar palsu di tiktok dan short youtube.

Blunder dan kebohongan yang terungkap di persidangan, membuat partisipan di medsos makin bersimpati pada Johnny. Ia dianggap korban; menderita selama bertahun-tahun sejak menikah dengan Amber. “ Johnny i love you.” “ Saya tim Johnny di Hongkong, di Belanda, di Afrika.”
Ucapan Elaine yang mencemooh vonis, dianggap netizen sebagai sikap yang tidak menghormati juri dan sistem peradilan. Memang tidak ada ucapan seperti pengamat di Indonesia yang sebelum memprotes suatu vonis, selalu mengatakan lebih dulu, “ saya menghormati keputusan hakim,tapi….”

Setiap kali Amber bersaksi bahwa ia dianiaya Johnny, pengacara Johnny bisa memperlihatkan di sidang foto-foto Amber yang cantik mulus di muka publik tanpa luka memar, hanya sehari setelah tanggal kejadian yang diceritakan Amber dengan mimik melas dan tertekan. Misalnya, potongan video Amber muncul di acara talkshow, bercerita lancar dengan hidung normal, tanpa bekas jotosan Johnny.

Begitu juga saat Amber mengaku punggungnya ditendang Johnny, ndilalah, ada foto Amber dengan baju merah backless ( punggung terbuka sampai atas bokong) di acara MetGala keesokannya. Amber tampil kinclong sambil melempar senyum lebar ke paparazi. “ Saya korban KDRT, tapi saya pastikan Amber bukan korban. Saya tidak merasa ia mewakili korban kekerasan terhadap perempuan.” Banyak netizen menulis komentar seperti ini.

Dalam sesi rebuttal – mengecek ulang pernyataan saksi sebelumnya, Amber Heard juga membantah keterangan saksi-saksi yang memberatkannya. Ia tidak membenarkan pernyataan Kate Moss. Kate Moss mengungkap selama berhubungan dengan Johnny, sang kekasih tak pernah memukul, menendang, mendorong dirinya. Amber juga mengaku tidak pernah mengirim video Johnny mengamuk.

Terdakwa juga mengaku tidak tahu dan tidak mengenal saksi kejadian di arena camping Hicksville. Padahal ia pemilik camping ground itu dan bersaksi bahwa kerusakan yang dibuat rombongan Johnny hanya sebuah lampu yang dimintai ganti rugi 82 dollar. Cerita Amber, Johnny memelintir tangan seorang perempuan karena cemburu ( sebelum menikah dengan Johnny, Amber kawin dengan perempuan)dan setelahnya Johnny mengobrak abrik trailer tempat menginap.

Baik saksi dari TMZ mau pun dari arena camping, adalah saksi-saksi yang berinisiatif untuk tampil di sidang. Alasannya, mereka ingin mengungkap kebenaran sebagai counter cerita-cerita Amber. “Saya bukan penggemar Johnny Depp,” kata pemilik tempat wisata itu.

Meski pun saksi-saksi ini kelihatan tulus dan jujur, Amber tidak peduli. “ Banyak orang cari muka untuk mendapat keuntungan dari Johnny. Johnny seorang tokoh yang berpengaruh dan kuat.  Itu sebabnya saya menulis opini di media,” kata Amber yang lebih sering bicara menghadap juri. Artis-artis di eranya, pasti membela Johnny, kata Amber menyindir Kate Moss.

“ Oh yaa? Jadi mereka semua datang kesini untuk bicara bohong di bawah sumpah?” tanya pengacara Johnny, Camille Vasquez. “Tidak, saya tidak mengatakan itu,” kata Amber, tanpa bisa menjelaskan lebih lanjut. Presenter Court TV mengatakan bahwa pengadilan Johnny Depp adalah pengadilan abad ini. Maksudnya, sangat menarik perhatian.  Pertama karena menyangkut mega bintang Johnny Depp, dan yang kedua, tak disangka bahwa sidang ini melahirkan rockstar lain, yaitu pengacara Camille Vasques, 37 tahun, dan Ben Chew dari kantor lawyer ternama Brown Rudnick yang bermarkas di ibukota AS.

Camille, perempuan latin berambut hitam dengan penampilan menarik, selalu bisa memainkan rally panjang pada saksi dan smashnya jitu bersarang di bidang lawan. Huraaah tepuk tangan dalam komentar tertulis dan verbal langsung on di medsos. Cintaku, pujaanku, kata netizen dengan foto dan  potongan video Camille.  Saat sidang membosankan, atau saksi ngeyel, Camille juga yang dicari netizen. Mana Camillee? Apa dia muncul hari ini ?

Jadi, materi persidangan itu sendiri yang membuat jagat medsos jomplang, lebih banyak membela Johnny. Baru setelah Johnny menang, kelompok aktivis perempuan bersuara. Mereka  menganggap kemenangan Johnny ini adalah kemunduran bagi gerakan perempuan #Metoo. Istilah misagonis ( kebencian pria terhadap perempuan) didengungkan. Media mainstream seperti Forbes, People, Vanity Fair menuding aksi Public Relation dan  media sosial penyebab kekalahan wanita, Amber Heard. “Persepsi tentang kebenaran menjadi lebih penting dari kebenaran itu sendiri, “ sindir Forbes.

Netizen tidak mundur. Mereka membalas dengan tagar #Mentoo. Me too gerakan wanita untuk membongkar pelecehan seksual pada wanita oleh laki-laki yang memiliki kekuasaan, contohnya artis yang diajak berzinah oleh produser film. Sedangkan Men too dimaksud bahwa laki-laki pun bisa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Camille Vasquez dengan meyakinkan mengucapkan manteranya di televisi. “ Saya mendukung wanita yang menjadi korban KDRT untuk bicara. Tapi KDRT tidak mengenal jenis kelamin.”

* Bunga Kejora Trihusodo: Wartawan TEMPO

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *