Press "Enter" to skip to content

Adu Pacu Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan

Oleh: Abdul Arif

Semua lembaga survei kredibel (lembaga yang hasil surveinya terbukti jarang meleset) menempatkan tiga nama sebagai pemuncak elektabilitas calon presiden RI 2024. Ketiganya adalah Ganjar Pranowo, Prabowo Subiyanto dan Anies Baswedan.

Tanpa bermaksud mengecilkan tokoh-tokoh lain berikut ini analisa peluang masing-masing.

1. Ganjar Pranowo.

Daya tarik utama Ganjar adalah latar belakang sosial politiknya. Dia berasal dari kombinasi Jawa-Islam-Abangan yang secara populatif merupakan mayoritas pemilih di negeri ini. Nilai lebih ini ditambah dengan fakta bahwa dia kader PDIP, partai politik pemenang Pemilu dan Pilpres dua periode terakhir berturut-turut. Kombinasi dari semuanya menempatkan Gubernur Jawa Tengah ini sebagai salah satu calon unggulan pada pilpres mendatang.

Sayangnya, Ganjar belum mendapat lampu hijau dari partainya sendiri. Megawati Soekartoputri sebagai pemilik hak prerogatif penentu nama capres dari PDIP belum memberikan restunya kepada pria asli Kebumen ini. Ada banyak spekulasi berkembang di sekitar Mega terkait restu ini. Sebagian mengatakan Presiden RI ke-5 itu ingin mengorbitkan salah satu anaknya, entah Puan Maharani atau kakaknya Prananda, sebagai capres atau cawapres. Sebagian lagi menyebutkan, Mega trauma dengan menunjuk “orang lain” sebagai capres setelah merasa “ditinggal” Jokowi, orang yang dua kali dia tunjuk-usung-dukung menjadi Presiden RI.

Bukan rahasia umum hubungan PDIP dengan Jokowi saat ini tidak sedang baik-baik saja. Perbedaan tajam tentang wacana perpanjangan jabatan Jokowi dan penambahan masa jabatan presiden menjadi tiga periode antara Mega-PDIP dengan para “loyalis” Jokowi mengindikasikan dinamika hubungan itu. Patut diduga, Mega dan PDIP tidak nyaman dengan dominasi Luhut Binsar Pandjaitan cs yang notabene kader Partai Golkar dalam penentuan kebijakan-kebijakan Jokowi. Seakan keluarga besar PDIP “diduakan” dalam pengambilan keputusan-keputusan penting pemerintahan.

Namun ada pula yang menduga, dinamika hubungan Ganjar-PDIP itu merupakan skenario yang disengaja oleh keduanya. Dengan tujuan munculkan kesan seolah Ganjar “dikuyo-kuyo” partainya sendiri sehingga memicu simpati publik. Kemudian ketika elektabilitasnya dinilai mencukupi, Mega memberikan restu pencapesan kepada Ganjar Pranowo. Dugaan terakhir ini memiliki argumentasi cukup kuat yakni kenyataan bahwa PDIP dan Ganjar saling membutuhkan: PDIP butuh capres dengan elektabilitas mumpuni dan Ganjar tentu saja butuh kendaraan parpol. Jika keduanya berpisah maka akan sama-sama rugi.

2. Prabowo Subiyanto

Sebagian publik menduga selepas kekalahannya pada Pilpres 2019 dan kesediaannya masuk pada kabinet Jokowi maka obsesi Prabowo untuk maju kembali di Pilpres 2024 telah sirna. Namun dugaan itu ternyata keliru. Prabowo menyiratkan sedang berancang-ancang untuk kembali maju pada Pilpres mendatang.

Tiga kali kekalahan sejak pilpres 2009 hingga 2019 tak menjerakan mantan komandan Kopassus TNI ini. Semangat Prabowo ini mungkin antara lain karena dimotivasi oleh hasil survei-survei mutakhir yang mengabarkan bahwa elektabilitas mantan menantu Soeharto itu masih moncer. Itu tanda bahwa Prabowo memiliki pendukung loyal meski saat ini menjadi pembantu Jokowi (sosok yang mengalahkannya di dua pilpres terakhir).

Sebagai ketua umum Partai Gerindra Prabowo punya bekal dukungan parpol walau belum mencukupi ambang batas pencalonan presiden yakni 20% kursi DPR RI. Setidaknya dia telah memiliki sebagian tiket itu. Dengan mengajak satu atau dua parpol lain dia bisa melenggang kembali di pencalonan presiden mendatang.

Hambatan utama Prabowo ada pada dua hal: Pertama, rekam jejaknya sebagai penculik aktivis mahasiswa yang menumbuhkan resistensi di kalangan para penggiat demokrasi dan, Kedua, kenyataan bahwa saat ini dia bukan lagi menjadi simbol kekuatan oposisi.

Keberhasilan Prabowo meyakinkan kalangan prodem tentang komitmennya terhadap demokrasi akan memecahkan masalah pertama. Sedangkan kepandaian dia berselancar di antara para pendukung Jokowi dan oposisi akan memberinya kekuatan untuk menambah basis dukungan tanpa kehilangan loyalitas dari para pendukung setianya.

3. Anies Baswedan

Walau menduduki jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini (struktur pemerintahan di bawah Kemendagri dan Presiden dalam hirarkhi pemerintahan) namun Anies adalah simbol kekuatan oposisi. Oleh kalangan yang kontra Presiden Jokowi Anies digadang sebagai tokoh yang diharapkan bisa tampil sebagai presiden dan kemudian mengoreksi kebijakan-kebijakan Jokowi yang mereka nilai keliru.

Jika dilihat spektrum pendukung Anies saat ini maka kita akan bertemu dengan para “musuh politik” Jokowi sejak 2014: kalangan Islam Kanan. “Perjumpaan politik” antara Anies dengan kelompok ini terjadi pada momentum Pilgub DKI 2017. Saat itu kelompok Islam Kanan ini tengah mencari sosok yang bisa mengalahkan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di Pilgub dan mereka mendapati Anies sebagai sosok itu. Anies sendiri secara ideologis tidak bisa digolongkan “kanan” karena rekam jejaknya menunjukkan bahwa mantan Rektor Universitas Paramadina ini beraliran nasionalis atau paling jauh Islam modernis, sebagaimana Nurkholish Madjid, guru ideologisnya.

Tapi, kecanggihan politik Anies mampu meyakinkan kalangan Islam Kanan untuk mendukungnya. Dengan demikian mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini telah memiliki bekal dukungan pemilih. Andai dia bisa merajut kekuatan-kekuatan lain di luar kelompok Islam Kanan maka kekuatan politiknya akan sangat diperhitungkan.

Repotnya, pada saat bersamaan sosoknya yang identik dengan “Islam garis keras” ini memantik resistensi dari kalangan lain, utamanya kaum nasionalis dan Islam tradisional. Kepandaian Anies untuk merangkul dua kelompok ini akan sangat menentukan kesuksesannya pada Pilpres 2024 mendatang. Selain keberhasilnya mendapatkan partai-partai pengusung pencalonannya sebagai capres.

****

Abdul Arif

Ketatnya persaingan antara ketiga nama di atas menyulitkan siapa pun untuk memprediksi hasil Pilpres 2024. Kemenangan capres kemungkinan akan ditentukan oleh tiga hal:

1. Figur cawapres yang “menambal” kekurangan capres sekaligus membawa segmen pendukung baru; 2. Parpol pengusung yang menjadi mesin penggerak pemenangan; dan, 3. Logistik yang akan membuat sesuatu yang tidak logis menjadi “logis”.

* Abdul Arif: S2 ilmu politik Universitas Nasional Jakarta. Mengajar di Universitas Sains Alquran Wonosobo, Jawa Tengah.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *