Press "Enter" to skip to content

Simfoni No.9 Di Penghujung Musim Semi

oleh :  Jean Gerardino

Memasuki musim panas 2022 sekaligus tahun ketiga penulis tinggal di kota yang berjuluk City of Brotherly Love ini, sudah cukup banyak pasang surut kehidupan terjadi di dalam interaksi sehari-hari. Segala bangsa dengan berbagai latar belakang dan warna kulit sangat mewarnai denyut nadi kota tempat lahirnya negara Amerika Serikat. Di tengah kesibukan kerja tanpa sengaja mata tertuju pada iklan kecil di sosial media, “The Philadelphia Orchestra 2022 concert”. Langsung saja jari menjelajah dunia virtual sambil berharap harga tiket masih terjangkau dan dari 3 hari pergelaran penulis memilih hari kedua, Jumat 3 Juni, dengan tema Beethoven’s Symphony no.9 yang merupakan choral symphony yaitu komposisi musik yang di dalamnya memadukan orkestra dan paduan suara atau koor. 

Proses penciptaan simfoni ini memakan waktu sekitar tiga dekade dan merupakan karya terbesar Beethoven yang dirampungkan tiga tahun sebelum kematiannya pada 1824. Para akademisi berpendapat Simfoni No.9 ini, yang terdiri dari 4 bagian atau yang lazim disebut movement, sebagai jembatan antara era klasik dan romantik dalam sejarah musik Eropa, serta karya Beethoven yang melibatkan jumlah musisi paling besar. Syair yang dinyanyikan paduan suara dan solois dalam simfoni ini diambil dari puisi karya sastrawan Jerman, Friedrich Schiller, yang berjudul An die Freude atau Ode To Joy dalam bahasa Inggris. Pada waktu pertama kali dipergelarkan di Vienna 7 Mei 1824, Beethoven yang saat itu menjadi dirigen atau konduktor sudah tuli sama sekali.

Dari seluruh karya Beethoven, Simfoni No.9 adalah orkestra dengan jumlah musisi terbesar. Tercatat untuk pertunjukan siang ini di seksi Woodwinds (piccolo, flute, oboe, clarinet, bassoon, contrabassoon) ada lima belas orang pemusik, Brass (horn, trumpet, trombone, tuba) empat belas orang, Percussion (timpani, bass drum, triangle, cymbals) lima orang,  Strings (violin I, violin II, viola, cello, bass) enam puluh orang dan empat solois (sopran, mezzo-sopran, tenor, bass) serta Philadelphia Symphonic Choir.
Pada tahun 1985 simfoni ini resmi menjadi lagu kebangsaan Uni Eropa.

Yannick Nézet-Séguin. photo credit : Jan Regan

Tepat pukul 13.30 penulis tiba di The Kimmel Center for the Performing Arts di sekitaran City Hall Philadelphia. Verizon Hall adalah salah satu panggung utama di dalam The Kimmel Center sekaligus rumah bagi The Philadelphia Orchestra, yang menjadi tempat berlangsungnya pergelaran. Orkestra dari kota bersejarah ini adalah bagian dari Big Five Symphony Orchestra di Amerika Serikat yang terdiri dari New York Philarmonic, Boston Symphony Orchestra, Chicago Symphony Orchestra dan Cleveland Orchestra. Sepuluh menit sebelum dimulai seluruh kursi di ruangan megah berkapasitas 2500 tempat duduk terisi penuh. Para pemusik sudah berada di tempatnya masing-masing ketika tepuk tangan membahana saat David Kim sebagai concert master masuk dan mengambil tempat duduk di sebelah kiri panggung kecil konduktor. Dia memberikan aba-aba untuk melakukan penyeteman yang selesai dalam waktu satu dua menit. Suasana kembali hening sejenak dan aplaus kembali bergema saat Yannick Nèzet-Sèguin melangkah ke panggung konduktor. Tangannya yang memegang baton lalu bergerak perlahan untuk kemudian menghentak dan Movement I : Allegro ma non troppo, un poco maestoso dari Simfoni No.9 in D minor, Op. 125 (“Choral”) mengalun menggema di ruangan dengan tata suara prima ini. Sesuai tema irama dan kesan bagian pertama simfoni ini berlangsung cepat tapi tidak terlalu cepat, terang dan ada sedikit sentuhan keagungan. Kurang dari dua menit telinga, mata dan tubuh sudah tersihir menikmati sensasi suara bermacam instrumen yang menyatu serasi dalam orkestrasi dengan kecepatan 120 hingga 156 ketukan per menit. Sekitar enam belas menit bagian pertama ini berjalan mulus tanpa cela. 

photo credit : The Philadelphia Orchestra

Jeda dalam hitungan detik lalu langsung masuk ke Movement II : Molto vivace – Presto yang iramanya lebih cepat dibanding bagian pertama. Gesekan strings bersahutan dengan woodwinds dan brass, yang sesekali ditingkahi pukulan timpani kembali menghadirkan ingatan nada-nada puluhan masa silam. Tak sadar kuduk meremang tanpa reda saat di usia pertengahan abad akhirnya menyadari untaian irama di masa lalu adalah bagian dari simfoni epik maha karya Beethoven.

Masih tersihir karena Second Movement semua terdiam tanpa tepuk tangan ketika orkestra masuk ke Movement III :  Adagio molto e cantabile – Andante moderato – Tempo I yang halus dan lembut. Woodwinds dan strings mendominasi di bagian ini. Beethoven seakan membuai hadirin sebelum masuk finale.             Tujuh belas menit, kurang lebih, penonton seperti dinina bobokan sebelum tiba-tiba hening sejenak. Dentuman timpani menggelegar menyentak yang hadir disusul gabungan woodwinds dan brass dalam tempo yang super cepat. Inilah Movement IV : Presto – Allegro asai – Presto (Recitativo) – Allegro asai – Allegro asai vivace : alla marcia – Andante maestoso – Allegro energico – Allegro ma non tanto – Poco adagio – Poco allegro, strigendo il tempo – Prestissimo, bagian terakhir dan terpanjang dari Simfoni No.9 in D minor, Op. 125 (Choral). Gesekan dawai bass dan cello mulai menyeruak dengan suara rendah yang menggetar, memberi petunjuk samar suatu irama yang sudah sangat akrab di telinga. Lalu woodwinds dan brass bantu membuka lebih jelas kidung yang tercipta dari syair pujian di abad kedelapan belas, dan akhirnya kembali bass dan cello merangkum seluruhnya. Ketika seluruh orkestra menyelaras dalam harmoni tanpa bisa dicegah wajah menjadi muara deraian air. Antusiasme persaudaraan begitu kuat terpancar, menerabas sekat penghalang. Suara bass Ryan Speedo Green meretas di awal bagian choral simfoni ini.
Atmosfer semakin menghangat saat paduan suara Philadelphia Symphonic Choir berpaut dalam
refrain :

 Deine Zauber binden wieder
Was die Mode streng geteilt;
Alle Menschen werden Brüder,
Wo dein sanfter Flügel weilt.

             Symphony No.9 – Movement IV – Barenboim/West-Eastern Divan Orchestra
 

Bait kedua dan seterusnya mengikut sertakan tenor dari Limmie Pulliam, mezzo-sopran Mihako Fujimura dan Angel Blue sebagai soprano. Di penghujung lima belas detik terakhir finale ini ketukan berada di titik tercepat, Prestissimo, membawa hadirin menahan napas. Dan saat kedua tangan sang konduktor,  Nèzet-Sèguin, sontak tak bergerak dalam sepermili detik orkestra pun diam dan dua ribu lima ratus pasang kaki serentak berdiri. Standing ovation dan tepuk tangan membahana hampir lima menit tanpa henti.
Saat kaki melangkah keluar gedung masih jelas terngiang :

Alle Menschen werden Brüder…..All men shall become brothers
Wo dein sanfter Flügel weilt……. Wherever your gentle wings hover.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *