Press "Enter" to skip to content

Peran Troll, Buzzer, dan Bot di Pemilu Indonesia Era Digital 2024

Oleh: Yaswin Ibensina, S.S

Tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah, tetapi lebih merupakan tulisan kebudayaan hasil pengamatan pribadi saya terhadap pola permainan sosial media yang membentuk opini atau pandangan umum selama berlangsungnya Pemilu 2014 dan 2019. Bisa jadi pola yang serupa, mungkin dengan modifikasi dan improvisasi, berperan dalam permainan politik menjelang dan selama Pemilu 2024.

Dalam bukunya yang populer dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Virus Akal Budi, Richard Brodie menuliskan tentang Meme, atau Virus Akal Budi. Meme berjalan menular dari satu orang/komunitas ke orang/komunitas yang lain. Pada akhirnya, meme ini diterima secara meluas dan dianggap sebagai sesuatu yang begitulah adanya, alias kebenaran.

Apakah Anda ingat meme di sosial media yang terus menyebar luas? Contohnya, wajah orang tertawa mirip Yao Ming atau ada yang bilang Jack Ma yang bisa diberi teks berbeda-beda? Atau lagu Gangnam Style atau Macarena yang mendunia? Ini adalah bentuk Meme yang beredar luas, yang berhasil melintas dari satu orang/komunitas ke orang yang lain. 

Nah, para Buzzer, Troll, dan Bot berebut untuk menguasai meme di jagad digital pada masa Pemilu. Buzzer adalah orang yang punya kekuatan memberi buzz atau ‘dengung’ yang riuh di belantara opini dan pikiran kita, sedangkan Troll di sini adalah sekumpulan buzzer yang lebih dalam lagi menyetir opini dan pikiran publik.

Mereka berupaya mengendalikan opini dan pikiran publik, dengan cara antara lain beternak akun, membuat begitu banyak akun anonim yang saling sahut menyahut mengatur dan memproduksi wacana yang berkembang. Sedangkan bot alias robot, ya memang robot yang bertugas menjelajahi, menjejalkan dunia digital dengan opini, respons dan apapun melalui mesin yang berupaya merebut wacana melalui penguasaan algoritma.

Lalu apa urusannya dengan kita? Nah justru yang memegang peranan paling penting adalah kita, Anda, Saya, dan Komunitas.

Virus Akal Budi berkembang, atau tidak berkembang, bergantung dari respon Anda, Saya, dan Komunitas dalam menyikapi Meme, atau Virus Akal Budi yang dilempar Buzzer, Troll dan Bot ini. Ketika kita merebut Meme yang dilontarkan Buzzer, Troll, dan Bot ini sebagai milik kita, maka dimulailah perang Meme; awal dari petaka atau bencana digital yang menjelma ke tataran publik atau bahkan bangsa. 

Cara kerja yang umum dari Meme adalah pertama diproduksi oleh sekumpulan Buzzer dan Troll yang dibayar oleh pihak yang bertarung. Lalu tersebarlah  link-link atau meme yang mereka produksi ke wilayah yang paling strategis yaitu aplikasi pesan di perangkat seluler kita, terutama grup-grup. 

Aplikasi pesan, terutama pesan grup, menjadi wilayah yang dalam hemat saya paling rawan dan paling berkualitas dalam penyebaran meme. Aplikasi pesan di perangkat seluler kita, berada sepenuhnya dalam kekuasaan tangan kita dan bersifat privat.  Melalui aplikasi pesan kita, Meme yang diproduksi Buzzer, Troll, dan Bot tersebar luas, bergantung dari sharing yang kita lakukan sebelum akhirnya menjadi milik publik.

Menguasai aplikasi pesan pribadi, sekali lagi menurut hemat saya, terlebih dahulu adalah capaian tertinggi  berkualitas dari mata rantai sharing; sedangkan aplikasi media sosial—walaupun meme sering muncul lebih dulu di sana—lebih merupakan platform publik bersifat melengkapi karena sifat masifnya.

Para Buzzer dan Troll sangat menyadari hal ini. 

Para Buzzer dan Troll yang berpengalaman dan terlatih, akan memilih sudut pandang atau framing berdasar pengalaman dan trial and error, pola mana yang paling banyak di-sharing atau disebarluaskan.  

Sampai sini barangkali sudah banyak yang tahu, namun yang jarang sekali terungkap adalah umpan dari para Buzzer dan Troll ini amat bergantung pada tingkat kesadaran atau bahkan ketidaksadaran kita. Apakah umpan dari para Buzzer dan Troll ini dimakan? Tergantung kesadaran atau ketidaksadaran tadi. 

 Masalahnya kemudian, kita punya budaya latah. Menerima segala sesuatu begitu saja dan ikut-ikutan kelompok tanpa kesadaran. Penulis dalam hal ini adalah bagian dari netizen +62 yang riuh rendah bahkan dalam memeriahkan trending topics tingkat global. Ada istilah receh alias retjeh, yaitu hal-hal kecil yang menjadi persoalan besar karena KUANTITAS lebih berpengaruh dari KUALITAS konten, bahkan menjadikannya trending.

Para Buzzer dan Troll menyadari ketidaksadaran publik, dan memanfaatkannya. Ketidaksadaran kita bisa berupa Kebencian, Rasa Iri, Persaingan, Pikiran Negatif dan Jahat, yang tak pernah kita sadari, akui, dan ini beroperasi di bawah sadar kita. 

Melalui data digital yang menyajikan data postingan masyarakat, para Buzzer dan Troll bukan hanya menganalisa apa yang terbaca dan trending di luar,  tetapi juga menganalisa meta teks, dalam pengertian apa yang tersembunyi di balik jejak teks digital. Bukan sekadar percakapan individual tetapi juga percakapan kolektif netizen mengenai sebuah topik, apa yang diyakini, atau apa yang dibenci.

Di sinilah kita berbicara megenai Kesadaran Kolektif atau Collective Consciousness. Dengan analisa yang tepat, kita bisa mengarahkan secara tersembunyi di balik teks ke arah tujuan yang kita mau, dalam hal ini arah tujuan para Buzzer dan Troll. Teks atau wacana apa yang bisa diproduksi, untuk kemudian dengan GRATIS disebarluaskan oleh masyarakat. Mereka menyediakan bait alias umpan, dan tanpa sadar, kita memakannya.

Para Buzzer dan Troll menyusup di bawah radar kesadaran kita, dan memencet tombol ketidaksadaran kita, bisa berupa kebencian, keserakahan, ego kelompok kita sendiri, dan sebagainya.

Peperangan di tingkat Buzzer dan Troll dalam kelompok yang bertarung, berubah menjadi pertarungan kita di masyarakat. Lalu kita begitu kaget ketika pertarungan ini bermanifestasi di ruang publik dengan munculnya massa di kedua belah pihak ke jalan. Lebih rumit lagi, di kedua pemilu, prosentase massa pemilih pihak yang berkontestasi terbelah dua nyaris tepat di tengah. Artinya, pertarungan wacana dan massa hampir sama kuat. 

Kedua-duanya sama-sama memegang klaim KEBENARAN. 

Yaswin Ibensina (koleksi pribadi)

Sedikit sekali yang menyadari KEBENARAN tersebut relatif benar, sejauh itu pandangan masing-masing. Apalagi menyadari kebenaran tersebut adalah KONSTRUKSI yang berkembang melalui teks-teks, wacana-wacana, dan Meme-Meme yang berkeliaran dan berjejalan merebut kognisi dan pikiran kita. Kebenaran tersebut seakan bersifat an sich, bahkan hoax menjadikan kebenaran wacana menjelma kebenaran faktual.  

Kemampuan kita menyadari pertarungan wacana yang deliberately designed alias didisain khusus dalam pemilu lima tahun sekali ini, dapat membantu kita sebagai masyarakat menghadapi keterpecahan atau keterbelahan. Masalahnya apakah kita mempunyai TINGKAT KESADARAN merespon produksi teks atau wacana selama masa pemilu dan efeknya pasca pemilu?

Apakah kita punya KESADARAN bahwa Perang ini tidak dimulai pada FISIK ATAU APA YANG TERLIHAT, melainkan perang pemilu ini dimenangkan dahulu di wilayah PIKIRAN?

Siapa korban perang ini?

* Yaswin Ibensina, S.S: Seorang penulis novel, penulis lepas di media, dan mantan aktivis mahasiswa UI 1998. Pernah pula menjadi penulis naskah iklan di perusahaan multinasional dan lokal Indonesia.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *