Press "Enter" to skip to content

Angin Segar Bertiup dari Capitol Hill Bagi Para Imigran Tanpa Dokumen Resmi

Ada angin segar bertiup dari Capitol Hill, Washington DC pekan lalu. Empat puluh delapan anggota Kongres Partai Demokrat berniat mengubah nasib para tanpa dokumen resmi di AS. Lewat usulan bernama ‘’Renewing Immigration Provisions of the Immigration Act 1929’’ para imigran tidak harus menunggu sampai 50 tahun untuk menjadi permanent resident, tetapi bisa lebih singkat lagi.

Dalam konferensi pers yang digelar pekan lalu, ditampilkan dua imigran dari Amerika Latin. Yakni, Vanessa, pelajar SLTA asal Mexico yang tinggal di AS selama 18 tahun, dan Virgilio Alema, imigran asal Honduras berusia 88 tahun yang telah menetap selama 25 tahun. Sesuai Akta 1929, keduanya harus menunggu sampai 50 tahun, untuk menjadi permanent resident. Virgilio Alema misalnya harus berusia 88 tahun baru dapat menikmati hidup bebas di AS. Sementara Vanessa perlu 32 tahun lagi. Padahal selama ini mereka telah berkarya dan bekerja di AS.

Banyak pula imigran ilegal asal Indonesia yang mengalami nasib seperti mereka yang tiba di AS dengan visa turis atau jenis visa lainnya. Melalui usulan itu, para anggota Kongres Partai Demokrat hendak membantu nasib para imigran ilegal yang jumlahnya diperkirakan mencapai 8 juta jiwa. 

Serangkaian perubahan dan usul pernah dilakukan beberapa kali. Termasuk mantan Presiden Ronald Reagan tahun 1986, juga Presiden Bill Clinton lewat kebijaksanaan pemutihan yang memberi peluang bagi imigran asing yang menikah dengan warga setempat, untuk mendapatkan permanent resident atau kartu hijau.

Upaya terakhir dilakukan Presiden Joe Biden tahun 2021. Dalam usulan berjudul ‘Build Back Better Act’, Biden bersama anggota parlemen Demokrat mengusulkan membenahi departemen imigrasi, antara lain dengan menambah personil untuk mempercepat proses keimigrasian yang menelan waktu belasan tahun. Namun sayang, upaya itu kandas diganjal para Senator Partai Republik yang menuduh menghabiskan dana.

Kini dalam situasi ekonomi dan kekurangan tenaga kerja dewasa ini, AS perlu meninjau dan meloloskan upaya itu. Bayangkan, dalam beberapa bulan belakangan, sejumlah perusahaan retail dan bidang lain, kekurangan tenaga karena para pekerjanya menuntut kenaikan gaji. Banyak yang mengundurkan diri atau keluar dari pekerjaan.

Seorang karyawan toko farmasi CVS bernama Mario terpaksa bekerja sendirian, setelah ditinggal keluar atasannya . ‘’Saya terpaksa menutup toko selama 1 jam untuk makan malam dan istirahat,’’ kata Mario yang akun Tiktoknya diklik ratusan ribu orang. Tentu saja sejumlah pelanggan kecewa. 

Tak hanya itu. Menurut VOA, selama tahun 2015 hingga 2018, hanya 305 pemohon yang berniat menjadi permanent resident atau kartu hijau gara-gara prosedur kartu hijau yang sulit itu.  Setelah upaya Pemerintahan Joe Biden, para anggota parlemen dari dua kubu meloloskan aturan baru bernama Farm Workforce Modernization Act. Akta ini dikhususkan bagi para pekerja pertanian dan perkebunan beserta keluarganya, untuk mendapatkan kartu hijau. Akta itu kini telah lolos di tingkat Senat. 

Tapi perlu dicatat, bahwa jenis pekerjaan ini sangat berat, dan melalui berbagai tahap yang mungkin bisa dilalui para pekerja kasar seperti petani atau pekerja perkebunan dari negara tetangga dekat dari Amerika Latin, seperti Mexico, Honduras dan sebagainya. Banyak warga Indonesia yang bekerja di perkebunan tomat atau sayuran di Negara Bagian Pennsylvania, mengalami hal itu, namun hingga kini belum mendapatkan kemudahan apapun.

Warga Indonesia hanya bisa berharap agar usulan ‘’Renewing Immigration Provisions of the Immigration Act 1929’’ itu bisa lolos, sehingga mereka tidak perlu menunggu sampai 50 tahun. ‘’Belum jelas berapa tahun seseorang bisa mendapatkan status permanent resident,’’ tulis kantor berita VOA. Kita hanya berdoa agar usulan ini berhasil lolos di tingkat Kongres dan tidak terganjal lagi di Senat seperti upaya  tahun 2021.

‘’Kegagalan di Kongres selalu berulang-ulang dan terjadi beberapa kali dalam sejarah. Terakhir di jaman Ronald Reagan,’’’ tutur Zoe Lofgren, kepada VOA. Anggota Kongres Demokrat inilah yang gigih memperjuangkan nasib imigran tanpa dokumen resmi di AS. (DP)

One Comment

  1. Mochamad S Nugroho Mochamad S Nugroho July 24, 2022

    Anak saya tahun ini masuk ke Temple University Pak Hadi….semoga kita bisa bertemu muka dan berbagi pengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *