Press "Enter" to skip to content

Buntoro: Bos Supermarket yang Tak Pernah Tamat Sekolah

Oleh: Khoirul Muzakki

Membaca Buku “Buntoro, Dari Nol Menjadi Mall” akan membuat publik keluar dari gagal paham. Kenyataannya, Buntoro bukan kaya karena keturunan. Semua orang bisa bermimpi sesukses Buntoro, namun bakal angkat tangan jika melihat kerasnya perjuangan Buntoro mencapai kejayaan.  

Umumnya karya biografi, buku ini cukup detail menceritakan perjalanan hidup Buntoro sejak kecil hingga sesukses sekarang. Bahkan, perjuangan pahit orang tua Buntoro, Wong Fie Joen yang asli Tiongkok ikut dilukiskan dalam buku ini. 

Konglomerat keturunan Tionghoa yang dikenal di Banyumas, Jawa Tengah itu berhasil membangun kerajaan bisnis raksasa.  Rita Mall, pusat perbelanjaan modern yang berdiri di sejumlah kota di Jawa Tengah menjadi ikon kerajaan bisnis Buntoro.  Kesuksesannya sekarang membuat siapapun akan terpukau, bahkan iri. Atau manifestasi kesuksesan Buntoro berwujud mall, hotel, hingga perumahan elit yang gemerlap.

Yang tidak tampak adalah perjuangan Buntoro. Inspirasi kesuksesan Buntoro bukan dari tokoh besar atau pengusaha sukses nan terkenal, namun hal itu datang dari ibunya sendiri, Wong Fie Joen yang bukan wanita kaya, apalagi terkenal. Janda miskin itulah yang berhasil mengantarkan Buntoro meraih kejayaan. Sosok Wong Fie Joen hampir tak pernah tertinggal dari setiap bagian dalam buku ini. 

Bersama Mama Wong Fie Joen (koleksi pribadi)

Tahun 1963, saat Wong Fie Joen mengandung anak ke tujuh, suaminya, Tjong Lie Lin meninggal dunia. Sejak saat itu Buntoro yatim. Fie Joen harus membesarkan enam anaknya seorang diri, serta calon bayi yang masih dalam kandungan.  Ayahnya tak meninggalkan harta berharga, kecuali mesin jahit tua dan sepeda.

Namun Fie Joen tak patah arang menghadapi kenyataan. Ia yang tak punya apa-apa optimis mampu membesarkan tujuh anaknya. Buntoro yang saat itu berusia 8 tahun, sudah mulai ditempa. Ia bahkan memilih berhenti sekolah di kelas 5 agar bisa membantu ibunya. Ia menjajakan apem dan bakso keliling kampung menggunakan sepeda. Bun merelakan masa kecil dan remajanya untuk bekerja. 

Kerja kerasnya tak sia-sia. Bocah berusia 15 tahun itu, sudah mampu menyewa kios di Purwokerto. Usahanya terus berkembang. Hingga ia mampu  membeli sebidang tanah 500 meter persegi di Jalan Jenderal Suprapto Purwokerto tahun 1978 untuk didirikan kios. 

Dalam sebuah pagelaran wayang kulit bersama istri.

Bisnis Buntoro tak selalu berjalan mulus. Buku ini adil menggambarkan kehidupannya yang berwarna. Tahun 1980, kiosnya sempat digusur, hingga omsetnya menurun drastis di tempat baru. Ibunya pernah dituduh mencuri hingga harus ditahan.

Beruntung kejahatan tak terbukti hingga ibunya dibebaskan. Yang lebih membuatnya terpukul, di puncak kejayaan usahanya, Rita Pasaraya Kebondalem yang menjadi supermarket pertama di Purwokerto ludes terbakar, tahun 2000. Usaha yang ia bangun puluhan tahun dengan susah payah, lenyap hanya dalam hitungan menit. 

Untungnya Buntoro sudah teruji. Ia tak menyerah begitu saja. Mentalnya sudah membaja. Nyatanya ia  mampu membuktikan, beberapa bulan kemudian, supermarket itu berhasil ia bangun kembali lebih megah dan tertata. 

Dari Buntoro pembaca akan belajar, kerja keras saja tak cukup untuk mencapai kesuksesan, butuh inovasi. Tahun 1980, saat konsep toko di Purwokerto masih konvensional, Buntoro sudah berpikir membangun supermarket. Ia mengadopsi Mickey Mouse Supermarket Semarang  untuk membuka swalayan pertama di Purwokerto bernama Rita Department Store. 

Konsep pelayanan layaknya supermarket (self service) kala itu belum populer di Purwokerto. Tidak mudah mengubah budaya konsumen yang biasa dilayani penjual. Namun lambat laun, budaya baru itu diterima masyarakat.  Buntoro memperbesar bisnis ritelnya dengan membuka banyak cabang Rita Mall di berbagai kota, antara lain di Kabupaten Cilacap, Wonosobo, Kebumen, dan Tegal. 

Menyatukan 7 Saudara
Menariknya, Buntoro yang susah payah membangun bisnisnya sendiri, tak lantas egois menikmati hasilnya untuk pribadi. Ia memanfaatkan kejayaannya untuk mempersatukan keenam saudaranya. Bun tak segan membagi saham ke saudara-saudaranya untuk ikut mengelola dan membesarkan bisnis bersama. Semua diberi jabatan strategis di perusahaan, masuk jajaran direksi.  

Bersama putra-putri dan cucu (koleksi pribadi)

Buku ini  bukan hanya mampu mendobrak semangat seorang yang ingin sukses dari membaca perjalanan hidup Buntoro.  Pemikiran-pemikiran Buntoro tentang manajemen perusahaan dalam buku ini menjadi pengetahuan mahal. Alhasil, pembaca bukan hanya akan termotivasi, namun juga mengerti. 

Judul : Buntoro, Dari Nol Menjadi Mall
Editor : Sujatmaka & Indah Nuritasari
Penerbit : PT Swasembada Media Bisnis
Cetakan Pertama : Januari 2022
Deskripsi fisik : 182 halaman
ISBN : 978-623-93077-3-8

27 Comments

  1. Hey, I think your website might be haviung browser compatibility issues.

    When I look att your website inn Firefox, it looks fine but when opening in Internet Explorer,
    it has some overlapping. I just wanted to give you a qujck heads
    up! Other then that, terrific blog!

    Stop bby my page … http://www.scoreit.org/p/julitvo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.