Press "Enter" to skip to content

Makan Sepuasnya di Rumah Makan Sambal Bu Nik Cuma Rp 17 Ribu

40 jenis lauk terhidang setiap hari dengan harga ramah kantong. Gerainya bertambah setiap bulan. Selanjutnya, Singapura dan Malaysia jadi sasaran.

Siang pukul 12.30 WIB  di Minggu,  12 Februari 2023 saat itu,  Rumah Makan  Sambal Bu Nik, di Jati Asih, Bekasi Jawa Barat, tampak sesak pengunjung.   Sebagian tamu malah meluber ke teras restoran tetangganya.

Hujan rintik di luar sepertinya menambah rasa lapar semakin menggigit. Apalagi melihat hidangan 40 jenis lauk yang tersaji berderet, masing-masing dalam kotak plastik bening.  Ada ayam kampung, broiler,  bebek, juga daging dilengkapi jerohannya. Pun berbagai  ikan asin (termasuk peda putih dan merah). Hampir semua disajikan dalam bentuk mentah siap goreng, kecuali pepes.



“Di sini hidangannya seperti di dapur sendiri, masih segar. Ibu saya suka dibawa ke sini,” ujar Ufi sambil menunjuk sang ibu yang sedang asyik menikmati ayam goreng yang dicocol sambal andalan rumah makan ini.  Sesekali, kuah sayur asem diseruputnya. Hmm.. Terbayang, rasa asam yang segar membuat sang ibu sedikit mengerucutkan lingkar mulutnya. Tapi, tangannya menggerakkan sendok yang dipegangnya untuk mengambil lagi kuah sayur  asem itu.  Sementara sang suami beserta dua anaknya, pun tak kalah asyik.  Beberapa tulang bebek, tampak berserakan di sisi piringnya. Seolah mereka tak menyadari  kami sedang ngobrol sambil mengamati mereka.

Ufi, wanita bekerja berusia 40 tahun ini mengaku hampir setiap akhir minggu selalu menyempatkan makan di Sambal Bu Nik ini.  Selain harganya masih ramah kantong, pilihan lauknya pun tak mengecewakan. “Sambalnya juga jagoan deh, pedas seger,  tapi tak bikin sakit perut,” katanya sambil mencocol 3 lembar daun pohpohan yang sudah membungkus sejumput daging ikan peda merah ke sambalnya. 

Ufi dan keluarga adalah salah satu dari beberapa keluarga lainnya yang meramaikan gerai yang dibuka September 2022 itu.   Ruang makan Sambal Bu Nik adalah gabungan dua ruko, total berukuran 8 x 20 meter.  Deru mobil motor di depan gerai  yang berlokasi di pinggir jalan, tak diacuhkan para tamu yang sedang asyik menikmati hidangan itu.

Sayur Asem Bu NIk (Foto: Susandijani)

Kesegaran, memang menjadi salah satu andalan tempat makan ini. Sambalnya, misalnya, dibuat dadakan dari beberapa bahan pilihan. Seperti tomat rampai dari Lampung.  Bentuk tomatnya bulat kecil, rasanya segar, asam, manis dan garing. Demikian juga cabainya, terdiri dari berbagai jenis. Ada cabai gunung (pedas tidak panas), cabe setan (pedas sekali) dan cabe keriting (pedas pahit).

Nah, kolaborasi  perpaduan cabe dan tomat, juga terasi yang khusus didatangkan dari pesisir Sumatera itu, akhirnya menghasilkan sambal yang rasanya khas. Sambal Bu Nik, dikenal dengan rasa manis, asam, pedas, pahit manis dan gurih. “Dibuatnya harus dadakan setelah dipesan. Kalau sudah 30 menit, rasanya akan berbeda,” ujar Direktur Marketing Sambal Bu NIK, Ahmad Dwi Saputro.

Yang unik lagi, ternyata resep sambalnya adalah hasil riset dua orang lelaki. Lah, Bu Nik? “Kami hanya pinjam nama saja, itu istri dari pendiri rumah makan ini. Tapi resepnya, saya dan rekan itu yang menciptakan,” ujarnya lagi yang ditemui di gerai Sambal Bu Nik, pada Minggu siang itu. Nama sang rekan yang juga founder Sambal Bu Nik ini, sama..yaitu Ahmad Dwiyanto.  Gara-gara nama depan sama, mereka sering disebut Duo Ahmad.

Nama Bu Nik disematkan di gerai itu, menurut Ahmad untuk mengingatkan kesan dan memori  yang umum melekat pada setiap konsumen yang datang tentang hidangan yang harus selalu ada di meja makan tersebut.

“Sambal itu biasanya kan ingatannya pada ibu kita. Jadi namanya harus ibu, meski yang menciptakan resepnya duo lelaki ini,” ujar Ahmad sambil tertawa.

Sosok yang sudah bertahun tahun berpengalaman di bisnis kuliner ini, pun memilih bahan sajiannya dengan prima.  Nasi uduk, misalnya, santan diambil pada perasan pertama dari kelapa Lampung.  Yaitu buah kelapa yang terkenal rasa gurih dan kentalnya. Terbayang kan, bagaimana aroma gurih kental berpadu dengan aroma daun sereh, salam, juga bawang dalam sepiring nasi uduk yang baru diangkat dari dandang besarnya itu?  Percayalah, Anda pasti akan menambah lagi porsinya.  Apalagi, jika ‘diam-diam’ Anda sebenarnya masih mengincar jenis lauk lain di meja antrean.

Demikian dengan sayur asamnya yang juga favorit.  Adalah dua jenis asam andalan yang dipadukan dalam kuahnya. Yaitu asam kandis dan asam muda.  Tak heran, ketika sayur kuah berisi kacang tanah, daun dan buah melinjo, kacang panjang serta jagung itu diseruput. Rasa asam yang pekat, manis gurih dan sedikit pedas, membuat tak henti  menyendoknya lagi.  Hanya dengan Rp 7.000,  Anda bisa menikmati sayur asam khas Pulau Jawa ini sepuasnya.

Tim Marketing dan Digital Sambal Bu Nik (Foto: Istimewa)

Ya, harganya memang tak membuat hati dag dig dug di Sambal Bu Nik ini. Misalnya saja, dengan budget  Rp 17.000, konsumen bakal mendapat satu potong ayam broiler plus nasi, yang bersama sambal lalapan bisa ambil sepuasnya.

Meski demikian, Sambal Bu NIk ini punya strategi marketing yang patut diacungi jempol. Konsep penataan lauk seperti prasmanan, misalnya.  Antre mengambil lauk pilihan yang disajikan dalam kotak plastik itu, ternyata, salah satu strategi ‘menyerang’ konsumen yang seringkali kalap  melihat banyak jenis lauk di hadapannya. “Jadi, ketika melihat banyak lauk di depan  mereka, konsumen akan lupa budgetnya. Akhirnya, memang setiap konsumen tak hanya ambil satu lauk,” ujar Ahmad yang selalu tampil bertopi itu.  Inspirasi penataan makanan itu sendiri, menurut Ahmad diambil dari street food  atau jajanan jalanan di negeri tetangga.

Dengan begitu, tak heran pula, jika setiap makanan yang disajikan di gerai ini selalu habis setiap hari.  Jenisnya pun terus bertambah. Dari Awal buka yang hanya 25 jenis lauk, kini sudah 40 jenis yang disajikan.

Kontrol terus dilakukan pada setiap jenis lauk di dalam kotak itu,  Misalnya, untuk menjaga kesegaran, setiap 4 atau 6 jam, lauk sisa  akan segera  ditarik dan diganti dengan yang baru .  Ini terutama,  seperti disebut di awal tulisan, karena semua lauk, kecuali pepes, dipersiapkan dalam kondisi mentah dalam rendaman bumbu.  “Setelah dipesan, baru kami goreng. “Jadi semua lauk ini hanya satu kali digoreng. Segar, sehat dan rendah kolesterolnya,” katanya.

Duo Ahmad, pencipta resep Sambal Bu NIk (Foto- Istimewa)


Strategi marketing  lain di Sambal Bu Nik juga terlihat jelas dari interiornya.  Tidak ada alat pendingin ruangan seperti AC, kecuali kipas angin yang terpasang di beberapa titik plafonnya. 

Meja dan kursi terbuat juga dari kayu. “Sengaja kursinya keras, tanpa bantalan. Ini  agar pelanggan tak lama-lama di sini, jadi memberikan kesempatan kepada konsumen lain. Artinya akan lebih banyak orang yang makan di Sambal Bu Nik,” ujar Ahmad sambil menambahkan bahwa yang terpenting di rumah makan ini adalah pelayanan ramah,  suasana bersih, dan tidak panas.

Dengan kesederhanaan tersebut. biaya produksi  pun jadi tak terlalu tinggi. Apalagi, semua bahan makanan pun diperoleh dari tangan pertama. “Tidak lewat agen, tapi langsung ke petani atau peternaknya,”ujar Ahmad. Yang juga mengedepankan ekonomi kerakyatan ini. 

Dari 9  outlet yang sudah dibuka saat itu,  total, setiap hari, minimal harus tersedia, antara lain 130 kg daun pohpohan, 250kg ayam Broiler, 100kg ayam kampung, dan 150kg  bebek.  Semua disediakan di dapur utama.

Persiapan membuat sambal, ada tomat rempah (Foto: Susandijani)

Bahan-bahan semua dipersiapkan mulai pukul 10 malam, sebelumnya. Yaitu pas barang datang dari produsen. Kemudian pukul 2 pagi, semua bahan ditata sesuai order setiap outlet.   Pukul 4 pagi baru disebar ke semua outlet.

Sementara ini untuk menjaga konsistensi bahan yang disajikan di setiap outlet, mereka telah bekerja sama dengan Bogor Hijau. Yaitu komunitas yang para petani dan peternak menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi yang konsisten.  Ukuran sayuran, seperti timun dan terung ungu, misalnya, per buah harus sekitar 200 gram.  Sementara ikan, mereka memakai ikan yang ukurannya 8 ekor dalam 1 kg.

Khusus ikan lele, kini Sambal Bu Nik sudah mulai memenuhi kebutuhannya sendiri. “Kini ada 20 kolam yang dikelola. Setiap kolam berisi 3000 ikan lele,” ujar Ahmad menerangkan.

Keseriusan dalam menjalankan rumah makan ini pun dicerminkan dalam pengelolaannya. Sambak Bu Nik ini dikelola sistem management profesional.  Dari pengelolaan sumber daya manusia, marketing, keuangan, operasional, sampai pada sistem keamanannya. “Orang-orang yang ditempatkan dalam posisi tersebut, adalah mereka yang sudah berpengalaman secara profesional di perusahaan besar dan mumpuni  di bidangnya masing-masing,” ujar Ahmad.

Di gerai, Anda akan dilayani para karyawan berseragam. Semua bekerja dengan menghadap ke arah konsumen.  Para karyawan yang dipekerjakan dengan sistem shift ini selalu menyapa ramah. Mereka juga masing masing punya waktu istirahat 2 jam.

Selama bekerja,  menurut Ahmad, setiap karyawan yang juga mendapat fasilitas mess, ini harus mengikuti aturan perusahaan. Yaitu, tidak diperbolehkan memegang telepon selular selama bekerja, tidak boleh mencuri, miras, dan zina.  Ketahuan melanggar, kami polisikan, ujar Ahmad. Paling tidak, sampai saat ini, ada 8 orang yang sudah dipolisikan.

Suasana outlet Sambal Bu Nik Jati Asih jelang makan siang (Foto Susandijani)

Dengan sistem kerja profesional itu, tak heran jika hasilnya pun memuaskan. Sejak buka  September 2022, perkembangan pendapatan ternyata melebihi ekspektasi.  Gerai pertama yang di Jati Asih ini, misalnya, omzetnya  sampai ratusan juta, bahkan sampai 4 kali lipat per bulan dari target awal.

Keberadaan Gerai Sambal Bu Nik sendiri, menurut Ahmad, pada awalnya adalah menangkap konsumen yang biasa makan di tempat mewah kemudian harus berhemat, tapi tidak mau makan di pinggir jalan.  Strategi pemasarannya tampaknya tepat, mengingat, pada kenyataannya hampir semua pendapatan anjlok. 

Padahal gerai ini anti iklan atau promo berbayar. “Kami hanya pasang spanduk yang dipasang sejak pembukaan gerai,” ujar Ahmad sambil menunjuk spanduk berukuran sekitar 4 x 0.5 meter dengan gambar kartun Bu Nik yang sedang menguleg sambal. Disampingnya ada tulisan Sambal Bu Nik, Aneka Lauk  Rp10000.  Ada juga spanduk besar bertuliskan sama yaitu berukuran 8 x 1 meter. Bahkan di Outlet Kamal, 15 x 3 meter. “Ciri khas kami, spanduknya memang besar-besar,” ujar Ahmad. 

Di samping itu, mereka juga dilengkapi tim marketing communication dan tim Digital marketing yang setiap hari bertugas melakukan sosialisasi di sosial media. Seperti Tik Tok,  IG, Facebook,  dan  YouTube.

Sambal Bu Nik buka sejak pukul 9 pagi hingga pukul 12 malam. Untuk Ramadan mereka akan buka dari pukul 3 sore hingga waktu sahur.  “Di 2023 ini target akan buka sampai 25 outlet,” ujar Ahmad yang menyebutkan bahwa pada Februari ini, sudah buka juga outlet yang ke-10 di kawasan Kamal Raya, Jakarta Barat.

Di luar Indonesia, Sambal Bu Nik berencana membuka gerai di  Brunai, Singapura, dan Malaysia.  “Tinggal cari local partner, karena harus permanen resident yang buka restonya,” kata Ahmad yang mengaku sudah mempelajari tata cara buka bisnis kuliner di luar negeri.  

Harga jelas harus menyesuaikan, beberapa bahan yang mentah, juga ikan asin sepertinya harus dipertimbangkan untuk mencari opsi lain.  Ini terutama mengingat di luar negeri dilarang bahan mentah dijual.    Ahmad juga menyebut, bahkan sambal Bu Nik -yang banyak terdiri dari bahan mentah-, mungkin harus diubah dengan sambal merek sendiri di luar negeri sana. (Artikel: Susandijani. Foto: Susandijani & Dokumentasi Istimewa)

 

 

 

12 Comments

  1. I don’t even know how I finished up right here, but I thought this put up
    was once great. I don’t know who you’re but certainly you are
    going to a famous blogger in case you are not already.
    Cheers!

  2. Sylvester Sylvester April 12, 2024

    Good article. I certainly love this website. Stick with it!

  3. You’re so awesome! I don’t think I’ve truly read something like that before.

    So wonderful to discover someone with unique thoughts on this topic.
    Seriously.. thank you for starting this up. This web site is one thing that is
    needed on the web, someone with a little originality!

  4. seguril con o sin receta seguril con o sin receta April 16, 2024

    What’s Happening i am new to this, I stumbled upon this I’ve
    discovered It positively useful and it has helped me out loads.

    I hope to give a contribution & help different customers like
    its helped me. Good job.

  5. Hey, I think your website might be having browser compatibility issues.
    When I look at your website in Chrome, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping.
    I just wanted to give you a quick heads up! Other then that,
    terrific blog!

  6. It’s nearly impossible to find well-informed people about
    this topic, however, you sound like you know what you’re
    talking about! Thanks

  7. kúpiť Haloxen bezpečne kúpiť Haloxen bezpečne April 22, 2024

    Thank you a bunch for sharing this with all of us you really recognize what you’re speaking
    approximately! Bookmarked. Please additionally discuss with my
    website =). We could have a link exchange agreement among us

  8. I’m gone to tell my little brother, that he should also go to see this
    weblog on regular basis to take updated from most recent gossip.

  9. Unquestionably believe that which you stated.
    Your favorite reason seemed to be on the net the simplest
    thing to be aware of. I say to you, I certainly get annoyed while
    people consider worries that they plainly don’t know about.
    You managed to hit the nail upon the top as well as defined out
    the whole thing without having side effect , people can take a signal.
    Will likely be back to get more. Thanks

  10. fosamax online in Turin fosamax online in Turin June 14, 2024

    I’m really enjoying the theme/design of your weblog.
    Do you ever run into any web browser compatibility problems?
    A small number of my blog visitors have complained about my website not working correctly in Explorer but looks great
    in Safari. Do you have any suggestions to help fix this issue?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mission News Theme by Compete Themes.