Press "Enter" to skip to content

Song of Joy

Oleh: Idrus F. Shahab

Ahad kemarin, di kawasan Pauliplatz, Cologne, Jerman, sejumlah musikus mulai memainkan Song of Joy. Tak lama berselang, di antara ancaman mematikan virus corona, hampir setiap orang di kota tersebut menyanyikan karya Beethoven itu.

***

Kali ini kita membicarakan seseorang yang tentu kita kenal. Orang yang telah beratus tahun silam mangkat, tapi “hantu”-nya selalu muncul di setiap pengujung dan awal tahun. Dialah ludwig van Beethoven, kampiun para komponis dari zaman klasik sampai zaman kontemporer seperti saat ini. Dan baiklah kita mulai membicarakannya dengan sebuah fakta bahwa Desember adalah bulan Beethoven. Ia lahir di Bonn, Jerman, pada 17 Desember 1770. Namun tampaknya tidak ada waktu yang lebih tepat untuk memainkan–menyanyikan berulang-ulang Symphony No 9 in D Minor selain masa ketika pandemi virus corona yang mencekam ini.

Simfoni terakhir yang digubah sang komponis ini berkisah tentang harapan segenap umat manusia: kebebasan, perdamaian, persaudaraan, dan persamaan. Karya Beethoven yang dirampungkannya pada 1824 ini acap kali hadir manakala peristiwa bersejarah pecah. Musik yang dikenal dengan sebutan “Ode to Joy” ini dimainkan tidak lama setelah Tembok Berlin runtuh pada 1989 dan gempa bumi besar menghancurkan Jepang pada 2011.

Ludwig van Beethoven (wikipedia)

Bagian keempat simfoni ini dibuka dengan suasana mendung, yang dibangun oleh barisan pemain alat-alat gesek berat: bas, kontrabas, dan cello. mungkin alat gesek tersebut dianggap sanggup mewakili perasaan-perasaan kelam dengan tepat. melalui suasana ini, Beethoven seolah-olah menyodorkan gambaran seorang ibu yang-dengan segala peluh, pedih, dan nyeri-sedang berjuang keras dalam sebuah persalinan panjang.

Suasana berubah total manakala klarinet dan flute, ditambah simbal, mulai membawakan melodi yang bergemerincing riang dalam nada-nada mayor.

Sang bayi telah lahir, bayi kebebasan, persamaan, dan persaudaraan umat manusia serta semua instrumen bangkit memainkan nada-nada meriah tersebut. Pada puncaknya, kelompok paduan suara bergabung menyanyikan “Ode to Joy”, terjemahan “An die Freude”, puisi karya penyair Jerman abad ke-18, Friedrich Schiller, dalam melodi yang riang itu. Satu puisi yang berbicara tentang pembebasan segenap manusia.

Ya, revolusi, reformasi, dan perubahan besar lainnya umumnya berangkat dari rasa perih dan pengorbanan. lahir dari penolakan terhadap suatu keadaan, ia kemudian berakhir dengan labelisasi yang-acap kali-sewenangwenang: sebagian orang menjadi pahlawan, dan sebagian lagi pengkhianat.

Idrus F. Shahab

Revolusi tentu berbeda dengan pemilihan umum, yang berangkat dari suatu kampanye di tanah lapang, dengan orkes dangdut yang menghibur dan mengantar sang calon pejabat berbicara di podium. Masyarakat menyambut revolusi dan memberikan dirinya demi kebebasan, persaudaraan, dan persamaan. Sebaliknya pemilihan umum.

Dan kini di tengah gempuran pandemi makhluk renik tak kasat mata tapi sangat mematikan itu, sekali lagi kita berpaling pada seruan persaudaraan dan kemanusiaan yang terkandung dalam “Ode to Joy.” Mungkin karena itulah, bagian keempat Symphony No 9 in D Minor ini terdengar lebih menggetarkan. (Idrus F Shahab)