Press "Enter" to skip to content

Reuni Virtual Keluarga Besar TEMPO Berlangsung Panjang dan Seru

Acara Reuni Virtual Keluarga Besar TEMPO yang digelar hari Minggu 23 Agustus 2020 lalu, berlangsung seru. Lebih dari 100 anggota keluarga besar TEMPO ikut hadir dalam acara yang digelar oleh Majalah Indonesianlantern.com, sebuah majalah komunitas Indonesia bermarkas di Philadelphia, AS.

Goenawan Mohamad yang memberikan sambutan pertama di acara itu, menjelaskan bahwa TEMPO sebentar lagi akan berusia 50-an. ”Di antara kita ada yang makin muda, makin tua…,” katanya.

 

”TEMPO yang hampir berusia 50 tahun, dan dalam keadaan yang tidak begitu baik, akibat perubahan teknologi dan pandemi,” katanya. Syukur kita masih bisa berkumpul dan dalam waktu 50 tahun ke depan, kita mungkin tidak akan ketemu, terutama saya,” sambung Pak Goen.

Kita harus bersyukur, sebab kita masih bisa bersatu. Apa yang mengikat kita, selain TEMPO sebagai nama? Mungkin semacam cita-cita untuk menerbitkan majalah yang baik. ”Terutama Didi karena dia berada di luar negeri. Dia sebenarnya wartawan asing,” tambahnya.

GM dan alm Syubah Asa (Foto: Ed Zoelverdi alm)

”Sampai sekarang saya merasa bangga, karena di mana-mana mantan wartawan TEMPO selalu di posisi yang memimpin,” kata Pak Goen melanjutkan. Sejumlah nama yang disebutnya antara lain Saur Hutabarat, kini menjadi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Group dan baru saja menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Jokow. Juga Dahlan Iskan, yang berhasil melambungkan nama Jawa Pos, pernah menjadi menteri dan kini menerbitkan majalah daring DI’s Way.

Yusril Djalinus & Wahyu Muryadi (buku TEMPO)

Kita perlu mengenang Yusril Djalinus dan para pelopor lainnya yang jasa-jasanya hampir tidak pernah dikenal. ”Ini adalah majalah mingguan berita pertama kali di Asia Tenggara, mungkin di Asia,” kata Goenawan Mohammad.

”Berkat teknologi, kita bisa bertemu mulai dari Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali, Melbourne, Jerman, dan lainnya,” sambungnya. ”Semoga di ulang tahun ke-50 mendatang, banyak yang diundang walaupun mungkin tidak bisa hadir,” kata mantan Pemimpin Redaksi MBM TEMPO tersebut.

Dalam acara reuni yang dipandu Rita Srihastuti itu, ikut berbicara Harjoko Trisnadi, salah satu pendiri TEMPO yang menceritakan kisah perjalanan majalah itu. Juga Putu Wijaya, bercerita tentang majalah Zaman, sebuah majalah yang pernah berjaya ada awal tahun 1980-an.

Suasana di ruang kantor TEMPO, Jan Senen Raya, Jakarta Pusat

Juga Kemal Gani, pemimpin redaksi SWA yang mengingatkan bahwa TEMPO tidak boleh pesimistis. Ada pula sambutan dari Andi Noya, pembawa acara kondang Kick Andy, serta lainnya. Juga Praginanto yang tetap berkiprah di dunia jurnalistik dari awal hingga kini.

Sebuah persentasi menampilkan foto-foto lama para awak TEMPO, menambah suasana semakin ceria dan menarik. Foto-foto saat TEMPO masih berkantor di Jalan Senen Raya Jakarta, kemudian pindah ke Proyek Senen, lalu ke HR Rasuna Said, Kuningan Jakarta, sebelum akhirnya boyongan di Gedung Tempo, Jl. Palmerah Barat No. 8, Jakarta Selatan 12210.

Bambang Bujono

Acara yang semula hanya dijadualkan berlangsung dua jam, terpaksa molor hingga tiga jam. Acara bebas berupa nyanyi bersama dan berkaraoke lewat Zoom berlangsung seru. Ada pula pembacaan puisi oleh Noorca dan Yudhistira Massardi, Priyono B. Sumbogo dan Linda Djalil.

 

Bambang Harymurti (Foto: James R. Lapian)

Di antara tamu tampak Seiichi Okawa, mantan koresponden TEMPO di Tokyo, Jepang. Liston Siregar dan James Lapian dari London, Inggris; serta Tutty Pudiastuti dari Jerman, serta Sita Kakiailatu, putri wartawati senior Toeti Kakiailatu di Belgia.

Juga A. Dahana dari Florida, AS. Tentu saja sejumlah mantan pejabat tinggi TEMPO, seperti Bambang Harymurti, S. Malela Mahargasarie, Gabriel Sugrahetty, Roestam Mandayun, dan lainnya, termasuk Yoyoh Suriyah yang tampil penuh semangat. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *