Press "Enter" to skip to content

Para Korban Aksi Kekerasan Anti-Asia Philadelphia Masih Traumatis

Rasa simpati dan solidaritas terhadap para korban kekerasan anti Asia di Philadephia, masih mengalir hingga akhir pekan ini. Termasuk dukungan dari The Council on American-Islamic Relations atau CAIR, yang mengeluarkan pernyataan resmi menyayangkan aksi kekerasan yang dilakukan salah satu remaja berhijab.

”Terlepas dari latar belakang insiden itu, tindakan para siswi menggunakan kekerasan fisik tidak benar. CAIR-Philadelphia dengan tegas menentang aksi kekerasan, tanpa memandang keyakinan dan etnis para korban,” tulis pernyataan resmi CAIR yang dikeluarkan Kamis 18 November 2021.

Tak cuma itu. Pernyataan resmi itu juga memuat permintaan maaf ibunda siswi itu. ”Kami benar-benar malu. Memalukan,” tulis ibu yang tak disebutkan namanya itu. ”Tindakannya tidak mencerminkan kami. Seperti yang terlihat di video itu, putriku adalah seorang Muslim. Kami tidak berperilaku seperti itu. Kami menghormati dengan kerendahan hati dan manusiawi,” lanjut permintaan maaf itu. Bahkan di awal kalimat, ibu itu menjelaskan bahwa putrinya yang berusia 12 tahun itu, sudah lari dari rumah sejak lama.

Ahmet Selim Tekeliogiu Ph.D

Pihak CAIR-Philadephia yang diwakili Ahmet Selim Tekeliogiu PhD, Direktur Pendidikan menyatakan, ”Kami ingin sekali berkunjung ke kediaman para korban untuk menyatakan keprihatinan dan dukungan,” katanya lewat telepon. Namun sampai malam ini belum ada jawaban dari keluarga salah satu korban berdarah Indonesia.

Jaksa Penuntut Umum Philadelphia Larry Krasner mengeluarkan dakwaan resmi terhadap empat siswi berusia 13 hingga 16 tahun, para tersangka pelaku kejahatan etnis anti-Asia. Dakwaan itu adalah: 1. Melakukan intimidasi etnis; 2. Penyerangan berat; 3. Penyerangan ringan; 4. Bertindak ceroboh dan membayahakan orang lain; serta 5. Melakukan ancaman terorisme.

Belum diketahui pasti keberadaan keempat siswi tersebut. Namun ada kabar, salah satu di antaranya diserahkan ibunya setelah melihat video kekerasan anti-Asia yang beredar luas di jaringan media sosial warga Philadelphia.

Pernyataan resmi CAIR Philadelphia

Sementara itu, pertemuan keluarga para korban di Chinatown Community Center Philadelphia, Jumat 19 November 2021, berlangsung seru. Di hadapan 100 pendukung komunitas itu, Mei Lu, tante salah seorang korban menuturkan bahwa keponakannya adalah siswi Asia yang berani tampil membela tiga siswa yang dibully.

Baca: Aksi Kekerasan di Philadelphia Makin Marak

”Aksi heroiknya membela kaumnya merupakan tindakan yang sangat dihargai,” kata Mei Lu. Seperti dilaporkan Harian The Philadelphia Enquirer, ibunda siswi tersebut yang duduk di samping Mei Lu, tampak menangis saat Mei menggambarkan luka di mata korban yang membengkak dan memar akibat jatuh di lantai kereta dan ditendang beberapa kali oleh para pelaku. Korban masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mendeteksi cedera di bagian kepala.

Carlie Zhang, seorang siswa Central Highschool, teman para korban mengungkapkan, komunitas Asia merasa terguncang mendengar kabar kekerasan itu, setelah 18 bulan belajar di rumah akibat Covid-19. ”Banyak di antara kami traumatis,” tutur Zhang, 17 tahun.

”Kami melihat teman-teman kami, remaja seperti kami, dipukuli dan dihajar hingga terluka,” katanya. ”Kita tidak bisa menyelesaikan kasus ini dalam sehari. Kita perlu tindakan agar kasus seperti ini tidak terulang lagi,” lanjut Zhang.

Langkah perusahaan kereta bawah tanah SEPTA yang menambah personil keamanan untuk memantau jalur kereta Broad Street, masih diragukan. John Chin, Direktur Eksekutif The Chinatown Development Corp menyatakan langkah awal itu sudah bagus. ”Tapi masih banyak orang tua dan anggota komunitas yang khawatir dengan keamanan setelah 20 bulan penuh kebencian, kekerasan, penyerangan dan pelecehan,” kata John Chin. (DP)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *