Membincangkan kuliner Nusantara memang tak pernah ada habisnya. Menariknya, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga merepresentasikan kekayaan warisan leluhur yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki ragam budaya yang unik dan melahirkan hidangan-hidangan ikonik. Sumatera, misalnya, dikenal dengan masakan berbumbu rempah kuat dan santan kental, seperti rendang. Sementara Jawa terkenal dengan cita rasa gurih dan manis yang tercermin dalam hidangan seperti gudeg dan soto.
Nyatanya, makanan bukan sekadar pemuas lidah. Ia adalah jendela budaya yang merangkum sejarah, identitas, dan nilai-nilai filosofis masyarakat Indonesia.
Setiap hidangan yang tersaji di meja membawa cerita tentang bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan kekayaan alam lokal sekaligus merawat warisan leluhur mereka. Tak heran, banyak resep tradisional menggunakan bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar dan sarat makna.

Kekayaan kuliner Nusantara ini sayang jika tidak terus digaungkan. Melalui tangan-tangan terampil para chef diaspora, kuliner Indonesia diperkenalkan ke panggung dunia.
Para diaspora yang tersebar di berbagai penjuru dunia turut mengangkat pamor kuliner Nusantara di kancah internasional.
Salah satunya adalah Idin Asmitha, Executive Chef Radisson Blu Hotel Dubai, yang sukses mengembangkan bisnis kuliner Indonesia di Uni Emirat Arab.
Di negara yang identik dengan pusat perbelanjaan mewah itu, Idin justru tidak menonjolkan menu Timur Tengah. Ia berani menyajikan hidangan khas Nusantara yang sebelumnya masih asing bagi lidah masyarakat Arab.

Namun, keistimewaan kuliner Indonesia membuatnya yakin bahwa masakan Tanah Air dapat diterima oleh masyarakat dunia. Terlebih, terdapat kesamaan selera antara masyarakat Arab dan Indonesia yang sama-sama menyukai masakan dengan rempah-rempah yang kuat.
Rendang, makanan khas Sumatera Barat, menjadi menu andalan restorannya.
Menurut Idin, memasak rendang bukan sekadar urusan mematangkan daging. Ada nilai budaya yang menyimbolkan identitas bangsa di dalamnya.
Proses memasak yang panjang memungkinkan bumbu meresap sempurna ke dalam serat daging, sementara santan perlahan menyusut dan menghasilkan cita rasa yang khas.
Kesabaran dan ketekunan menjadi kunci dalam menghasilkan hidangan istimewa tersebut.
“Saya memilih rendang karena untuk memasaknya bukan hanya butuh teknik, tetapi juga kesabaran dan passion, dengan hati,” katanya dalam webinar bertajuk Chef Diaspora: Dari Resep Tradisi ke Ekonomi Kreatif, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, kesamaan selera masyarakat Timur Tengah dengan Indonesia membuka peluang besar bagi bisnis kuliner Indonesia di kawasan tersebut.
Dari sisi cita rasa, masakan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, berdasarkan rilis CNN pada 2017, rendang dan nasi goreng Indonesia menduduki peringkat pertama dan kedua dalam daftar World’s 50 Best Foods.
Namun, keberhasilan bisnis kuliner tidak hanya ditentukan oleh kelezatan makanan.
Konsumen masa kini mencari pengalaman budaya yang autentik. Mereka tidak hanya menikmati rasa dan penyajian yang menarik, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik resep warisan yang disajikan.
Karena itu, Idin tengah menggagas pendirian food court atau pusat jajanan yang menghadirkan aneka masakan khas dari berbagai daerah di Indonesia.
Di sana, pengunjung tidak hanya menikmati hidangan lezat, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya yang memperkenalkan Indonesia secara lebih dekat.
“Ketika orang datang, mereka bisa menikmati hidangan lezat, lalu pulang dengan membawa kesan positif tentang Indonesia,” katanya.
Kuliner Indonesia memiliki potensi besar untuk merajai pasar internasional. Namun, dukungan pemerintah tetap menjadi faktor penting.
Menurut Idin, diaspora telah berupaya memasarkan kuliner Nusantara ke dunia. Sudah sepantasnya pemerintah turut mendukung langkah tersebut, misalnya melalui jaminan keamanan, bantuan pendanaan, hingga kemudahan akses terhadap bahan baku.
“Makanan Indonesia bisa menjadi kekuatan kuliner dunia. Tapi keberhasilan itu jangan dibebankan hanya kepada pengusaha. Pemerintah juga harus mendukung,” ujarnya.
Belanda, Pasar Potensial Kuliner Nusantara
Dengan jumlah diaspora Indonesia yang cukup besar, Belanda menjadi pasar potensial bagi perkembangan kuliner Nusantara.
Ratusan warung dan restoran Indonesia telah berdiri di Negeri Kincir Angin tersebut.
Peluang itu dimanfaatkan oleh pasangan diaspora Eduard Roesdi dan Renu Lubis yang mendirikan restoran Nona Manis.
Kehadiran restoran dengan menu khas Indonesia itu disambut positif, baik oleh diaspora maupun masyarakat Belanda.
Menariknya, beberapa kuliner tradisional yang mulai terpinggirkan di Indonesia justru mendapatkan tempat istimewa di Belanda.
Eduard mengungkapkan bahwa olahan tahu dan tempe menjadi salah satu menu favorit di restorannya.
“Di Nona Manis, tahu dan tempe sangat populer. Kami menyajikannya tanpa menghilangkan cita rasa otentik. Di Belanda, keaslian rasa harus dijaga,” katanya.
Namun, popularitas restoran Indonesia masih tertinggal dibandingkan restoran yang menyajikan masakan Thailand, Korea, atau Prancis.
Menurut Eduard, keberhasilan negara-negara tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara spontan. Ada peran besar pemerintah yang secara konsisten mendukung dan mempromosikan kuliner mereka.
Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sarat nilai budaya. Sayangnya, potensi tersebut belum dipromosikan secara maksimal.
“Kalau kita tidak memberitahukan bahwa kita memiliki kekayaan kuliner yang unik, dunia tidak akan pernah tahu,” katanya.
Tantangan Mengenalkan Indonesia
Berbisnis kuliner Nusantara di luar negeri bukan tanpa tantangan.
Bukan hanya kulinernya yang belum populer. Di beberapa negara, nama Indonesia sendiri pun masih kurang dikenal.

Hal itu dialami oleh Renta Uli Panggabean, diaspora pemilik Restoran Enak Indonesia di Meksiko.
Ia mengaku sempat kesulitan meyakinkan pemilik tempat usaha yang sama sekali tidak mengenal Indonesia.
“Semua pemilik tempat bertanya, ‘Indonesia itu di mana?’ Akhirnya saya bilang, saya ingin membangun restoran Asia, seperti masakan China, Jepang, atau Thailand. Bedanya, ini adalah Indonesia,” katanya.
Meskipun telah memasang identitas restoran Indonesia dengan jelas, banyak pelanggan yang masih mengira restorannya sebagai restoran Thailand.
Akibatnya, Renta memiliki tugas tambahan, yaitu memperkenalkan Indonesia beserta kebudayaannya kepada para pelanggan.
Ia bahkan mendesain taplak meja bergambar peta Indonesia agar pelanggan lebih mudah mengenal negara asalnya.
Jumlah diaspora Indonesia di Meksiko yang hanya sekitar 50 orang juga menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, ia menyasar pasar masyarakat lokal dan wisatawan asing agar usahanya tetap berkembang.
“Dari perut naik ke mata. Dari makanan mereka mengenal Indonesia. Setelah makan di restoran kami, mereka kemudian tertarik terbang ke Indonesia,” katanya.
Menurut Renta, masyarakat Meksiko tidak mudah menerima budaya baru, termasuk kuliner.
Karena itu, ia memiliki strategi tersendiri untuk memperkenalkan masakan Indonesia.
Salah satunya dengan memperkenalkan gulai melalui kemiripannya dengan hidangan lokal Meksiko bernama mole.
Ia juga menghubungkan nasi bungkus dengan tamales, makanan tradisional Meksiko yang sama-sama dibungkus menggunakan daun pisang.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat Meksiko menjadi lebih terbuka untuk mencoba kuliner Indonesia.
“Karena mereka merasa ada kemiripan rasa,” katanya.
Menjual Pengalaman Budaya
Cerita sukses diaspora juga datang dari Malaysia.
Jane Tan, pemilik restoran Mama Medan, kini telah memanen hasil kerja kerasnya.
Restorannya tidak hanya dikunjungi diaspora Indonesia, tetapi juga warga lokal dan wisatawan mancanegara.
Ia menghadirkan nuansa budaya Nusantara yang kuat di restorannya. Meski tampak modern dan mewah, sentuhan tradisional tetap mendominasi.
Beberapa bagian interior menggunakan gebyok atau pintu rumah adat Jawa dengan ukiran khas Jepara.
Area luar restoran juga dilengkapi gazebo bergaya arsitektur Jawa.
Memasuki restoran tersebut, pengunjung seolah diajak kembali ke Indonesia.
Menu yang ditawarkan pun sarat tradisi, mulai dari lontong panas, ikan gulai masam, ayam kremesan, bakso, hingga nasi kuning tumpeng.
Jane Tan mengaku bangga menjual makanan Indonesia di perantauan.
Di sana, ia bukan hanya menjalankan bisnis, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
“Kami bangga bisa mengenalkan kuliner Nusantara yang kompleks. Sekali mencoba, mereka akan rindu dengan sensasi rasanya,” katanya.
Baginya, masakan Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan negara lain karena setiap hidangan menyimpan cerita yang kaya.
Setiap makanan memiliki ikatan emosional dan budaya yang kuat dengan masyarakatnya.
Belum lagi keberagaman rasa yang dihadirkan, mulai dari gurih, manis, pedas, hingga asam yang berpadu dalam satu hidangan.
Kekuatan rempah-rempah yang meresap menjadikan masakan Indonesia memiliki karakter yang khas.
Jane juga sengaja mempekerjakan staf asal Indonesia karena mereka memiliki pemahaman budaya terhadap makanan yang disajikan.
Kelezatan hidangan yang dipadukan dengan keramahan khas Indonesia melahirkan pengalaman bersantap yang autentik.
“Kami membutuhkan pekerja dari Indonesia yang memahami budaya makanan tersebut. Keramahan orang Indonesia sangat kami butuhkan,” katanya.
Kuliner sebagai Alat Diplomasi
Di belahan dunia lain, tepatnya di Saint Petersburg, Rusia, Arief Santosa membangun restorannya yang bernama Kalpataru.
Ide itu berawal dari kegelisahannya sebagai mahasiswa yang kesulitan menemukan makanan Indonesia di Rusia.
Dengan modal terbatas, ia memberanikan diri mendirikan kafe yang tidak hanya menyajikan makanan khas Nusantara, tetapi juga menghadirkan atmosfer budaya Indonesia.
Interior khas Jawa lengkap dengan ornamen wayang kulit menyambut setiap pelanggan yang datang.
Berbagai menu khas Indonesia, seperti soto, rendang, dan kue putu ayu, menjadi andalan restorannya.
Seperti para chef diaspora lainnya, tantangan terbesar yang dihadapi Arief adalah memperkenalkan kuliner Indonesia kepada masyarakat yang belum mengenalnya.
“Butuh waktu untuk mengenalkan. Saat kami menyajikan teh kopi daun pandan, mereka mengiranya matcha,” katanya.
Kendala lainnya adalah keterbatasan bahan baku di Eropa Timur.
Ia sempat mengimpor kecap, tempe, dan sambal dari Belanda sebelum akhirnya berhasil memproduksi sebagian bahan bakunya sendiri.
Bagi Arief, kuliner bukan sekadar seni menikmati hidangan. Kuliner juga dapat menjadi alat diplomasi antarnegara.
Melalui makanan, Indonesia dapat memperkenalkan budaya, mempererat hubungan antarbangsa, dan meningkatkan citra Indonesia di mata dunia.
Kuliner adalah bahasa universal yang mampu menembus batas-batas politik.
Kalpataru menjadi jendela bagi masyarakat Rusia untuk mengenal Indonesia lebih dalam.
“Saya memberanikan diri membangun Kalpataru di tengah kota untuk mengenalkan kekayaan budaya Nusantara, terutama rempah-rempah,” katanya.

