Bagi banyak keluarga imigran dan pekerja berpenghasilan rendah di Amerika Serikat, kartu SNAP bukan sekadar bantuan pemerintah. Kartu itu sering kali menjadi pembeda antara kulkas yang terisi dan kosong di akhir bulan.
Namun, sejak diberlakukannya aturan baru dalam paket kebijakan federal tahun lalu, jutaan warga Amerika mulai kehilangan akses terhadap program bantuan pangan tersebut. Program Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP), yang dulu dikenal sebagai food stamps, mengalami pemotongan anggaran terbesar sejak pertama kali dibentuk pada tahun 1964.

Data terbaru menunjukkan lebih dari 3 juta orang kehilangan manfaat SNAP hanya dalam kurun beberapa bulan setelah aturan baru diberlakukan. Bahkan sejumlah laporan lain menyebut jumlahnya telah mendekati 4 juta penerima bantuan.
Di atas kertas, pemerintah federal menyebut perubahan ini sebagai upaya mengurangi pemborosan, memperketat syarat penerimaan bantuan, dan mendorong masyarakat untuk bekerja. Namun di lapangan, banyak kelompok advokasi pangan dan peneliti kesehatan publik melihat dampak yang jauh lebih kompleks: meningkatnya kerawanan pangan, tekanan pada food bank, hingga bertambahnya beban hidup keluarga miskin dan komunitas imigran.
Aturan baru tersebut memperluas kewajiban kerja bagi penerima SNAP. Orang dewasa usia 18 hingga 64 tahun yang tidak memiliki anak kecil kini diwajibkan bekerja, mengikuti pelatihan kerja, atau melakukan kegiatan tertentu minimal 80 jam per bulan untuk tetap memenuhi syarat bantuan. Sejumlah pengecualian yang sebelumnya berlaku bagi veteran, mantan foster youth, dan individu tanpa tempat tinggal juga mulai dihapus.

Bagi sebagian orang, persyaratan itu mungkin terdengar masuk akal. Tetapi bagi pekerja dengan jam kerja tidak tetap, lansia yang masih bekerja serabutan, atau keluarga imigran yang hidup dari pekerjaan informal, aturan administratif seperti ini justru sering menjadi hambatan baru.
Banyak penerima bantuan kehilangan akses bukan karena mereka tidak lapar, tetapi karena gagal memenuhi proses pelaporan yang rumit atau tidak mampu membuktikan status kerja mereka tepat waktu.
Di berbagai kota, food bank dan organisasi bantuan makanan mulai merasakan dampaknya. Permintaan bantuan meningkat, sementara kapasitas distribusi tidak bertambah. Sejumlah organisasi bahkan menyebut sistem bantuan pangan saat ini “mulai mencapai titik kritis.”

Bagi komunitas imigran, termasuk komunitas Asia dan Asia Tenggara, situasi ini juga menimbulkan ketakutan tersendiri. Banyak keluarga sebenarnya memenuhi syarat menerima bantuan pangan, tetapi enggan mendaftar karena takut berdampak pada proses imigrasi mereka atau khawatir dianggap “membebani negara.” Dalam beberapa tahun terakhir, kebingungan soal aturan public charge dan perubahan kebijakan federal memang membuat banyak keluarga imigran memilih diam meski mengalami kesulitan ekonomi.
Padahal, di tengah naiknya harga bahan makanan, biaya sewa rumah, dan ketidakpastian ekonomi, bantuan seperti SNAP menjadi salah satu penyangga hidup yang paling nyata bagi jutaan keluarga.
Para peneliti kesehatan masyarakat juga mengingatkan bahwa dampak kehilangan SNAP tidak berhenti pada urusan makanan. Anak-anak yang kehilangan akses bantuan pangan berisiko mengalami gangguan kesehatan, kesulitan belajar, hingga masalah perkembangan jangka panjang.

Sementara itu, negara bagian juga diperkirakan akan menghadapi tekanan anggaran baru karena sebagian biaya program mulai dialihkan ke pemerintah negara bagian dalam beberapa tahun ke depan.
Di balik angka jutaan penerima bantuan yang “hilang” dari sistem, ada cerita tentang keluarga yang mulai mengurangi porsi makan, lansia yang harus memilih antara membeli obat atau bahan makanan, dan anak-anak yang pulang sekolah ke rumah dengan dapur yang semakin sunyi.
Bahan artikel ini diadaptasi dan diterjemahkan dari laporan American Community Media serta didukung oleh berbagai laporan tambahan dari Associated Press, Reuters, The Wall Street Journal, dan sumber kebijakan publik lainnya.

